Analisis Strukturalisme Genetik Novel Dasamuka

ANALISIS STRUKTURALISME GENETIK NOVEL DASAMUKAKARYA JUNAEDI SETIYONO DAN RENCANA PEMBELAJARANNYADI KELAS XI SMA

Oleh: Misbakhumunir, Kadaryati, Bagiya
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Purworejo

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) unsur intrinsik novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono; (2) strukturalisme genetik novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono; (3) rencana pembelajaran novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono di kelas XI SMA. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah (1) unsur intrinsik novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono terdiri dari: (a) tema: perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia; (b) tokoh utama: Willem berwatak pandai, penuh keyakinan, dan penuh rasa ingin tahu; Dasamuka berwatak cerdik dan percaya diri; tokoh tambahan: Den Wahyana, Ki Sena, Pieter, Kiai Ngarip, Den Mas Suryanata, Rara Ireng, Sutan Jarot, Semi, dan Ngusman; (c) alur: maju; (d) latar tempat: Keraton Ngayogyakarta, Loji Tuan Thompson, dan Puri Tegalreja; latar waktu: pagi, siang, sore, malam hari, tahun 1811, 1816, 1823, dan tahun 1824; latar sosial: kebudayaan Jawa yang meliputi, adat istiadat, pandangan hidup, dan bentuk tempat tinggal; (2) strukturalisme genetik novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono terdiri dari (a) fakta kemanusiaan: fakta kemanusiaan kreasi kultural, aktivitas sosial, dan fakta kemanusiaan aktivitas politik; (b) subjek kolektif: perbedaan kelompok priyayi dan kelompok wong cilik (orang kecil); (c) pandangan dunia pengarang: pandangan kemanusiaan; (3) rencana pembelajaran novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono sesuai dengan kompetensi dasar 7.2 menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan; model pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif model Team Game Tournament (TGT); metode yang digunakan adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dan penugasan; langkah-langkah pembelajaran terdiri dari kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.

Kata kunci: strukturalisme genetik, novel, rencana pembelajaran

PENDAHULUAN
Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imanjinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Oleh karena itu, kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Pengarang sebagai subjek individual mencoba menghasilkan pandangan dunianya kepada subjek kolektifnya. Menurut Iswanto, keberadaan sastra yang demikian menjadikan ia diposisikan sebagai dokumen sosiobudaya (Jabrohim, 2017: 77).

Salah satu bentuk karya sastra adalah novel. Novel merupakan bentuk karya sastra yang mampu memberikan manfaat besar bagi perkembangan kemanusiaan dan kehidupan manusia. Para novelis menampilkan pengajarannya melalui berbagai tema dan amanat dalam novelnya, misalnya tema kemanusiaan, sosial, cinta kasih, ketuhanan, dan sebagainya. Dalam pembentukannya novel tidak dapat lepas dari struktur pembangunnya. Namun, dalam strukturalisme genetik Goldmann menyatakan bahwa struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat karya sastra yang bersangkutan. Goldman percaya pada adanya homologi antara struktur karya sastra dengan struktur masyarakat, sebab keduanya merupakan produk dalam aktivitas strukturasi yang sama (Faruk, 2015: 56).

Selama ini banyak orang awam yang berpendapat bahwa kita telah memahami substansi novel secara komprehensif hanya dengan menganalisis unsur-unsur intrinsik novel. Padahal tidak demikian, apabila karya sastra hanya dipahami dari unsur intrinsiknya saja, makna karya sastra dapat dianggap lepas dari konteks sosialnya. Karya sastra selalu berkaitan dengan masyarakat dan sejarah yang melingkupi penciptaan karya sastra. Pemaknaan teks karya sastra yang mengabaikan pengarang sebagai pemberi makna akan berbahaya karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas, kepribadian, cita-cita, dan juga norma-norma yang dipegang teguh oleh pengarang tersebut dalam kultur sosial tertentu (Endraswara, 2013: 56).

Strukturalisme genetik adalah cabang penelitian sastra secara struktural yang tak murni (Endraswara, 2013: 55). Strukturalisme genetik muncul sebagai reaksi atas strukturalis murni yang mengabaikan latar belakang sejarah dan latar belakang sastra yang lain. Goldmann menyatakan bahwa karya sastra sebagai struktur bermakna akan mewakili pandangan dunia penulis (Endraswara, 2013: 57). Pandangan ini bukan sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa strukturalisme genetik merupakan penelitian sastra yang menghubungkan antara struktur sastra dengan struktur masyarakat melalui pandangan dunia atau ideologi yang diekspresikannya.

Salah satu novel yang dapat dianalisis menggunakan strukturalisme genetik adalah novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono. Kelebihan dari novel Dasamuka adalah terdapat nilai-nilai kemanusiaan, pembentukan suatu idealisme, sejarah, dan budaya yang diharapkan pantas ditiru bagi setiap pembacanya. Novel tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra di SMA. Pembelajaran sastra khususnya novel, sangat penting bagi peserta didik karena dengan mempelajari sastra, peserta didik diperkenalkan dengan macam-macam peristiwa dalam kehidupan. Hal ini senada dengan Rahmanto yang menyatakan bahwa pengajaran sastra harus dipandang sebagai sesuatu yang penting dan patut menduduki tempat yang selayaknya (Rahmanto, 1988: 15).

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas terdapat salah satu aspek yang berkaitan dengan masalah unsur intrinsik dan ekstrinsik novel, yaitu pada pembelajaran kelas XI semester I untuk aspek membaca. Standar kompetensi 7. memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/novel terjemahan, dan Kompetensi Dasar 7.2 menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan. Menurut Sukirno, membaca adalah perbuatan yang dilakukan berdasarkan kerja sama beberapa keterampilan, yaitu mengamati, memahami, dan memikirkan (Sukirno, 2009: 2). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur intrinsik novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono, strukturalisme genetik novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono dan rencana pembelajarannya di kelas XI SMA. Kajian terdahulu yang dijadikan acuan penelitian ini, yaitu penelitian Mastuti (2015), Khusnul Khotimah (2016), dan Tri Maryani (2016).

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah analisis strukturalisme genetik novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono dan rencana pembelajarannya di kelas XI SMA. Penelitian ini difokuskan pada analisis strukturalisme genetik novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono yang meliputi unsur intrinsik novel, fakta kemanusiaan, subjek kolektif, pandangan dunia pengarang, serta rencana pembelajarannya di kelas XI SMA. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono yang diterbitkan oleh penerbit Elmatera di Yogyakarta tahun 2014. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dan kartu pencatat data. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik studi pustaka. Studi pustaka berkaitan dengan teoretis dan referensi lain yang terkait dengan nilai, budaya, dan norma yang berkembang pada situasi sosial yang diteliti (Sugiyono, 2016: 398). Teknik analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi (Sudaryanto, 2015: 15), yaitu penelitian dilakukan dalam dokumen-dokumen yang padat isi. Teknik yang digunakan untuk menyajikan hasil analisis data adalah teknik penyajian informal.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dalam penelitian ini meliputi, unsur intrinsik novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono, strukturalisme genetik novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono, dan rencana pembelajarannya di kelas XI SMA.

Unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono, meliputi: (a) tema: perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia; (b) alur: maju; (c) tokoh utama: Willem digambarkan sebagai tokoh yang pandai, penuh keyakinan, dan penuh rasa ingin tahu; Dasamuka digambarkan sebagai tokoh yang cerdik dan percaya diri; tokoh tambahan: Den Wahyana, Ki Sena, Pieter, Kiai Ngarip, Kiai Ngali, Den Mas Suryanata, Rara Ireng, Sultan Jarot, Semi, dan Ngusman ; (d) latar tempat: Universitas Edinburgh, Bogor, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Loji Tuan Thompson, Bagelen, Puri Tegalreja, dan Kebumen; latar waktu: pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari, tahun 1811, 1816, 1823, dan tahun 1824; latar: latar sosial: kebudayaan Jawa yang meliputi adat istiadat, pandangan hidup, dan bentuk tempat tinggal.

Analisis strukturalisme genetik novel Dasamuka, meliputi: (1) fakta kemanusiaan, terdiri dari fakta kemanusiaan kreasi kultural menjelaskan karakteristik budaya kehidupan sosial masyarakat Jawa, fakta kemanusiaan aktivitas sosial menjelaskan kehidupan sosial yang terdapat dalam novel Dasamuka, fakta kemanusiaan aktivitas politik menjelaskan gambaran politik di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat; (2) subjek kolektif dalam novel Dasamuka, meliputi subjek kolektif kelompok priyayi dan subjek kolektif kelompok wong cilik (orang kecil), perbedaan tersebut dilihat melalui bahasa, pekerjaan, peralatan hidup, pakaian yang digunakan, dan tempat tinggal; (3) pandangan dunia pengarang Junaedi Setiyono adalah pandangan kemanusiaan.

Rencana pembelajaran novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono di kelas XI SMA berdasarkan kompetensi dasar 7.2 menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan. Model pembelajaran ini menggunakan model pembelajaran Team Game Tournament (TGT) dan dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab, diskusi dan pemberian tugas. Langkah-langkah pembelajaran: pertemuan I terdiri dari (1) pendahuluan, pendidik mengucapkan salam pembuka, menciptakan suasana belajar kondusif, memotivasi agar belajar aktif; pendidik menyampaikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dicapai; (2) inti, kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar. Pada tahap ini, pendidik menyampaikan materi unsur intrinsik yang terdapat dalam novel; pendidik membentuk kelompok yang terdiri dari empat sampai lima peserta didik; pendidik meyiapkan kartu berwarna-warni yang dibaliknya telah berisi pertanyaan tentang unsur intrinsik; salah satu anggota kelompok ke depan mengambil kartu tersebut; peserta didik mendiskusikan pertanyaan dengan anggota kelompoknya; peserta didik mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, (3) penutup, pada tahap ini pendidik menyimpulkan kembali pembelajaran yang dipelajari kemudian mengucapkan salam penutup. Pertemuan II, (1) pendahuluan, pendidik memberikan salam, mengondisikan kelas, dan mengajukan pertanyaan terkait materi yang sudah disampaikan; (2) inti, terdiri dari: pendidik menyampaikan materi strukturalisme genetik; pendidik menanyakan tugas peserta didik tentang analisis strukturalisme genetik yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya; pendidik dan peserta didik bersama-sama mendiskusikan dan membahasnya; (3) penutup, pada tahap ini, pendidik menyimpulkan hasil pembelajaran; pendidik mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing kelompok akan mendapat hadiah apabila skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Kelompok dengan skor tertinggi mendapat julukan “Super Team”, tertinggi kedua “Great Team”, dan tertinggi ketiga “Good Team”.

SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disajikan sebelumnya, simpulan penelitian ini adalah unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono meliputi: tema, alur, tokoh dan penokohan, dan latar. Strukturalisme genetik dalam novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono meliputi: fakta kemanusiaan, subjek kolektif, dan pandangan dunia pengarang. Rencana pembelajaran novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono di kelas XI SMA berdasarkan kompetensi dasar 7.2 menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan. Model pembelajaran ini menggunakan model pembelajaran Team Game Tournament (TGT) dan dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab, diskusi dan pemberian tugas.

Berdasarkan simpulan di atas, peneliti dapat memberikan saran, (1) bagi pembaca, penelitian ini hendaknya dapat meningkatkan rasa cinta terhadap karya sastra Indonesia dan mengambil nilai positif yang terdapat dalam novel; (2) bagi pendidik, novel Dasamuka dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra karena novel ini menyajikan sejarah Indonesia masa lampau yang dapat menumbukan rasa nasionalisme pada perserta didik; (3) bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam melaksanakan penelitian selanjutnya atau penelitian serupa di masa yang
akan datang.

DAFTAR RUJUKAN
Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Sastra: Epistimologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: FBS UNY.
Faruk. 2015. Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik sampai Post- modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jabrohim. 2017. Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Khotimah, Khusnul. 2016. “Unsur Budaya dan Kearifan Lokal Novel Dasamuka Karya
Junaedi Setiyono dan Skenario Pembelajarannya di Kelas XII SMA (Kajian Antropologi Sastra)”. Surya Bahtera. Vol 4, No 35. Universitas Muhammadiyah Purworejo.
Maryani, Tri. 2016. “Analisis Strukturalisme Genetik Novel Rantau I Muara Karya
Ahmad Fuadi dan Skenario Pembelajarannya di Kelas XI SMA”. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Purworejo.
Mastuti , Dwi Linda. 2015. “Analisis Strukturalisme Genetik dalam Roman Die Verwandlung Karya Franz Kafka”. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.
Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Setiyono, Junaedi. 2014. Dasamuka. Yogyakarta: Penerbit Elmatera.
Sudaryanto. 2015. Metode dan Aneka Teknis Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian
Wahana Budaya secara Linguistis. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.
Sugiyono, 2016. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R dan D. Bandung: Alfabeta.
Sukirno. 2009. Sistem Membaca Pemahaman yang Efektif. Purworejo: UMP Press


Disqus Comments