Ziarah dan Do'a Minta Jodoh

Kemarin tanggal 1 Januari 2019, setelah melakukan beberapa aktifitas yang melelahkan, sekarng gilirannya melakukan kegiatan yang membuat hati kita menjadi tenang yaitu ziarah kubur. Ziarah kubur adalah untuk mengingatkan kepada kematian. Sudah siapkah? Sudah punya bekalkah?

Sebenarnya saya tidak ingin ikut ziarah, soalnya biasa kalau harus bangun pagi-pagi agak susah, ya bukan apa-apa, orang tidurnya abis subuh, masa harus bangun jam 7, cas hp aja belum penuh. Tapi teman-teman terus menelponku hingga akhirnya aku terbangun.

Ziarah kubur yang saya lakukan kemari cuma seputaran Kabupaten Purworejo. Rute ziarah kubur;
1. Makam Alang-Alang Amba
2. Makam K.H. Ma'mun Murod (Pendiri Ponpes Nurussalaf)
3. Makam Raden Zaenudin (Solotiyang)
4. Makam Imam Puro
5. Makam Tuan Guru Loning.

Ziarah yang diadakan oleh Ikatan Remaja Masjid Al Huda ini sebenarnya sudah ketiga kalinya, namun saya baru pertama ikut. Ziarah pertama kebentur lelang pengadaan barang dan jasa di balai desa Sukogelap. Ziarah kedua, ada pelatihan membuat website di kelas ekstensi Gapura Digital Yogyakarta dan yang ketiga sebenarnya kebentur ngantuk.

Seperti pada umumnya ziarah, kita datang kemudian tahlil dan memanjatkan do'a. NB: jangan minta kepada kuburan akan tetapi mintalah kepaa Allah.

Nah, sampai di Imam Puro. Namanya Mas Aan, beliau bilang kepada saya, jangan lupa berdo'a minta di dekatkan jodohnya. Ada rasa yang aneh dari perkataan itu, dan menimbulkan pertanyaan. Apakah sudah waktunya?

Tapi yang jelas dengan penuh rasa, saya meminta demikian. Ya Allah Dekatkanlah jodoku.

Sampai di tempat terakhir yaitu makam Tuan Guru Loning saya pun berdo'a demikian. Apa yang saya lakukan seolah-olah mengiyakan perkataan beliau.

Ah entahlah, do'a minta di ekatkan joohnya saja, tiak masalah, yang masalah kalau berdo'a supaya bisa nikah lagi.

Tapi sampai sekarang pikiran terus. Apa memang sudah saatnya sepatu yang nakal ini berganti dengan sandal rumahan?

Disqus Comments