Skip to main content

3 Oktober adalah Hari Anti Hoaks Nasional

Sebelum memulai tulisan ini saya ingin bercerita sedikit tentang kisah Ratu Hoaks yaitu Ratna Sarumpahit seorang aktivis senior, yang membuat sejarah baru dengan membohongi semua rakyat yang sedang berduka dengan kejadian gempa dan tsunami di Sulawesi. Ratna Sarumpahit mengaku telah dianiyaya oleh sekelompok orang yang tidak dikenal di Kota Bandung. Tapi ada yang janggal di sini, Ratna sarumpahit tidak menghubungi pengacara dan tidak melaporkan kasus penganiyayaan tersebut ke polisi. Ia berdalih jika sampai lapor ke pihak yang berwajib keluargannya akan dihabisi. Orang yang berani dengan Presiden tiba-tiba berubah menjadi orang rumahan yang takut dengan ancaman.





Drama pembohongan ini akhirnya terbongkar. Si pembuat sekenario sekaligus aktor dan produser ini meminta maaf atas kegaduhan nasional yang kemarin terjadi adalah karena sekenario bohong yang dibuatnya.

Bagaimana cerita saya? Lucu? Menyedihkan? Biasa saja? Atau mungkin membuat Anda terkejut? Begitulah orang sepintar Ratna Sarumpahit membodohi rakyat dengan cerita hoaksnya.

Drama yang berjudul “operasi plastik berbalut aksi penganiyayaan” tersebut sungguh telah menggemparkan dunia persilatan politik Nasional. Momentem kampanye Pilpres memang memudahkan orang-orang untuk untuk membagikan berita hoaks tanpa adanya analisis dan konfirmasi.




Berita hoaks yang dipolitisir ini telah mampu membangkitkan sentimen politik salah satu pihak. Banyak tokoh nasonal dengan mudah mengeluarkan pernyataan hujatan dan cacian terhadap pemerintah yang dinilai lamban menangani kasus ini. Klimaksnya Prabowo Subianto beserta koalisi mengadakan konfrensi pers, mengutuk keras oknum yang melakukan penganiyayaan, yang sebenarnya diarahkan kepada kubu lawan politik.

Begitu dahsyat dampak yang timbul dari hoaks hingga politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Ahmad Baidowi mengusulkan tentang pencatatan tanggal 3 Oktober sebagai Hari Anti Hoaks Nasional.

Hari Anti Hoaks Nasional, perlu kah?

Usulan politisi PPP patut untuk di pertimbangkan, pasalnya jika tanggal 3 Oktober di peringati sebagai “HariAnti Hoaks Nasional” dan memenjarakan pelaku pembuat dan penyebar hoaks, maka dengan demikian Indonesia benar-benar perang melawan hoaks.




Momentum ini juga bisa menjadi cara cerdas mencegah penyebaran hoaks di media sosial serta mampu mengingatkan generasi penerus bangsa yang merupakan agen perubahan dan calon pemimpin bangsa yang menguasai teknologi dan informasi, harus mampu memilah dan memilih informasi yang akurat sehingga tidak terjebak dalam hasutan hoaks.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar