Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme

Rekonstruksianisme secara terminologis bukan sebuah filosofi dalam maknanya yang tradisional, karena tidak sampai pada aspek epistemologi dan logika secara mendetail. Hal ini dapat terlihat bahwa rekonstruksianisme lebih mencurahkan perhatian pada rekonstruksi sosial dan budaya di mana kita berpijak. Bisa dikatakan bahwa rekonstruksianisme hampir murni sebuah filsafat sosial, karena membawa penganutnya tidak menjadi filosof professional, akan tetapi menjadi sarjana dan aktifis pendidikan yang berkonsentrasi pada perbaikan kondisi sosial dan budaya.

Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme

Beberapa tokoh rekonstruksi diantaranya adalah :
  1. George S. Counts (1889-1974)
    Pandangan sentral Counts adalah ketika pendidikan dalam sejarah digunakan untuk mengenalkan peserta didik pada tradisi, budaya, sosial dan kondisi budaya, dalam waktu yang sama telah direduksi oleh sains modern, teknologi dan industrialisasi.

    Sehingga pendidikan sekarang harus diarahkan pada kekuatan positif untuk membangun kultur budaya baru dan mengeliminasi patologi sosial. Dia menegaskan bahwa pendidikan harus memiliki visi dan prospek untuk perubahan sosial secara radikal dan mengimplementasikan proyek tersebut. Counts’ menyeru para pendidik untuk membebaskan diri dari kebiasaan pendidik yang merasa nyaman menjadi pendukung status quo dan terjun bebas menjadi aktor perubahan sosial di masyarakat.
  2. Theodore Brameld (1904-1987)
    Dia melihat masalah kemanusiaan sedang berada di simpang jalan dan hampir mengalami kehancuran, hanya dengan berusaha penuh kita bisa menyelamatkan kemanusiaan tersebut. Karenanya dia melihat rekonstruksianisme juga sebagai filsafat nilai. Nilai yang dimaksud adalah nilai yang berdasarkan asas-asas supernatural yang menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Brameld juga menekankan untuk membangun tujuan-tujuan yang jernih untuk pembebasan, dalam maksud lain dia menyebut persatuan dunia untuk menghilangkan bias yang ditimbulkan nasionalisme yang sempit dan menyatukan komunitas ke dalam pandangan dunia yang lebih luas. Hal tersebut akan menjadikan pemerintahan-pemerintahan dunia dan peradaban-peradaban dunia di mana orang-orang dari seluruh ras, negara, warna kulit dan kepercayaan ikut terlibat bersama dalam kedamaian dunia.

    Menurutnya satu aktifitas filsafat yang utama adalah penjelajahan makna terhadap perbedaan konsepsi dari pusat tujuan penyatuan dunia. Rekonstruksianisme berusaha mencari kesepakatan semua orang tentang tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tata susunan baru seluruh lingkungannya. Tujuan ini hanya mungkin diwujudkan melalui usaha kerja sama semua bangsa-bangsa. Secara ringkas rekonstruksianisme bercita-cita mewujudkan dan melaksanakan sintesa, perpaduan ajaran Kristen dan demokrasi modern dengan teknologi modern dan seni modern di dalam satu kebudayaan yang dibina bersama oleh seluruh kedaulatan bangsa-bangsa sedunia. Rekonstruksianisme mencita-citakan terwujudnya satu dunia baru,dengan satu kebudayaan baru di bawah satu kedaulatan dunia ,dalam control mayoritas umat manusia.
  3. Kneller (1971:248) membuat resume filsafat rekonstruksivisme yang dikemukan oleh Brameld
    Pendidikan harus berjalan sendiri dan sekarang saatnya penciptaan susunan sosial baru yang mengisi nilai-nilai dasar budaya kita dan di saat yang sama sejalan dengan kekuatan sosial dan ekonomi yang mendasarinya.

    Masyarakat baru pasti merupakan sebuah demokrasi sesungguhnya yang lembaga dan sumber utamanya dikontrol oleh masyarakat itu sendiri.

    Siswa, sekolah dan pendidikan itu sendiri adalah kondisi yang tidak dapat ditawar-tawar oleh kekuatan sosial dan budaya.

    Guru harus meyakinkan siswanya tentang kevaliditasan dan urgensi dari solusi rekonstruksionis, tetapi guru tersebut harus melakukan hal tersebut dengan teliti untuk prosedur demokrasi.

    Proses dan hasil pendidikan harus di ubah secara komplit untuk memenuhi tuntutan hadirnya krisis budaya dan untuk menyesuaikan dengan penemuan sain behaviorisme.
  4. William O. Stanley
    William O. Stanley, yang lahir di Sedalia, Missouri, pada tahun 1902, menerima gelar sarjana dari Universitas Baker pada tahun 1936 dan gelar Doktor dari Universitas Columbla pada tahun 1951. Dia mengajar di Columbia University dan University of Illinois. Selama berkarier, Profesor Stanley telah menjadi pendukung konsisten filosofi rekonstruksionis sosial pendidikan. Dalam pemilihan berikut, Stanley meneliti tema kebingungan pendidikan dan krisis.
  5. Harold Rugg (1886-1960);
    Mengkhawatirkan kurikulum yang tidak memiliki relevansi dengan dunia nyata dan mengabaikan masalah-masalah sosial.
  6. Ivan Illich (1926-2002);
    Menginginkan penghapusan sekolah dan menemukan pendekatan baru untuk pendidikan.
  7. Paulo Freire (1921-1997);
    Menginginkan sekolah yang dapat ditarik dari pengalaman kehidupan sehari-hari peserta didik.

Disqus Comments