Ruwatan Adat Jawa

Warisan Budaya Jawa yang disebut Ruwatan telah tumbuh dan berkembang selama berabad-abad, yang tentu saja banyak mengalami proses perubahan sampai pada bentuk sekarang ini. Umumnya Upacara Ruwatan diselenggarakan dengan pergelaran Wayang yang sarat dengan pesan pendidikan budi pekerti dan spritual ditampilkan secara Simbolik dan Metafolik yang serba estetis. Pesan pendidikan itu merupakan hasil penghayatan para leluhur dalam hidup bermasyarakat serta perhubungannya dengan alam yang menjadi lingkungannya.

Penyampaian pesan-pesan secara simbolik itu bertujuan agar nilai-nilai yang diungkapkan dapat terpelihara kelestariannya. Apabila pesan itu disampaikan secara lugas, niscaya penerimaannya tidak berbeda dengan informasi biasa dalam kehidupan sehari-hari, artinya sesudah pesan itu diterima oleh pendengarnya, maka selesailah fungsi pesan itu dan tidak mengesan di dalam hati.

Upacara Ruwatan dilaksanakan dalam suasana hening dan sakral. Yang disakralkan itu bukan benda-benda perlengkapan upacara ataupun tindakan simbolik para pelakunya, melainkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, itulah yang disakralkan.

Secara Rasional dapat diuraikan bahwa Ruwatan bertujuan untuk membersihkan jiwa anak sukerta dengan dibekali ajaran berbagai ajaran etika dan moral yang terungkap dalam upacara, dalam pergelaran wayang dalam makna simbolik setiap perlengkapan termasuk sesaji.

Kata Ruwatan berasal dari kata Ruwat artinya bebas/lepas. Kata Mangruwat/Ngruwat artinya membebaskan/melepaskan. Tradisi Hindu melakukan pengruwatan dipilih makhluk yang hidup mulia dan bahagia, akan tetapi belakangan terjadi perubahan nilai yang kemudian berubah menjadi hina dan sengsara, sehingga bagi mereka yang hidup sengsara atau hina itu harus diruwat artinya dibebaskan atau dilepaskan dari hidup sengsara.  Bau Sastra Jawa Ruwat artimya ”Luar Sokoning Panenung, Pangesat, mewujudkan sing salah kedaden, Luwar saka ing bebandan pahukuman ing Dewa”
Dalam cerita Jawa Kuno banyak menampilkan cerita Ruwatan, kebanyakan yang diruwat adalah dewa yang kena kutuk dan karenanya menjadi hina hidupnya, hidup sebagai binatang, raksasa dan wujud lain yang jelek dan jahat. Contoh beberapa cerita antara lain :

  1. Dalam Kakawin Partayajna (XXXII):
    Raksasa Nalamala anak Durga melalui tekak (Telak) sebelum Durga melahirkan Ganesya. Ketika perang melawan Arjuna, Nalamala menampakan diri dalam ujud Kala. Arjuna bersamadi bersatu dengan Hyang Syiwa, maka dahinya memancarkan sinar. Raksasa Kala takut dan melarikan diri, serta berkata akan muncul pada jaman kali dalam wujud tiga bersaudara kalakeva untuk membunuh dua saudara pandawa.
  2. Dalam Cerita Sudamala ( III-IV ):
    Muncul anak Durga bernama Kalantaka dan kalanjana, keduanya berasal dari Dewa Citragada dan Citrasena yang kena Kutuk Batara Guru, Kalantaka dan Kalanjana memihak Kurawa dan akan memusnahkan Pandawa. Tetapi mereka berdua bahkan diruwat oleh Sadewa, kembali menjadi Dewa asalnya. Disebutkan pula dalam cerita Sudamala Tokoh kalika, tetapi dia adalah abdi Batari Durga.
  3. Dalam Cerita Smaradahana karangan Mpu Darmaja ( XXIV-XXVIII ):
    Diceritakan Syiwa beranak Gana dalam bentuk Dewa berkepala Gajah, Dalam Cerita tersbut juga disebut – sebut Nama Nandiswara dan Mahakala, tetapi mereka berkedudukan menjadi penjaga Syiwa dalam bertapa. Mahakala bukan anak Syiwa.
  4. Dalam cerita Krsnakalatanka ( IX-LXXVI ):
    Dalam kitab Kalangwan karangan PJ Zoetmulder ( Penerbit Dajambatan, 1983 ). Disebut-sebut tokoh kalantaka. Kalantaka adalah Raja Raksasa yang di anugerahi kesaktian oleh Durga. Ia membantu Duryadana dalam usaha menumpas warga Pandawa. Diceritakan. ketika di nasihati oleh bisma supaya damai dengan Pandawa, Duryadana menolak dan akan mencari bantuan kepada Durga. Maka Duryadana pergi ke hutan mencari Durga, ditemani Daswanta. Durga menawarkan Kalantaka untuk membantunya.
  5. Dalam Pakem kandaning Ringgit Purwo ( Naskah Lediden UB LOV 639II, halaman 39-44, terbitan Djambatan, Jakarta ):
    Diceritakan bahwa Hyang Guru beristri Dewi Gariti dan Dewi Uma. Dewi Gareti beranak 2 bernama Batara Brahma dan Batara Cakra. Batara Brahma tubuhnya berbulu dan tulangnya berwarna merah, sedang batara Cakra timpang kakinya. Dewi Uma beranak 2 pula, yang pertama bernama Batara Wisnu, serba hitam warnanya. Yang kedua bernama Batara Basuki serba putih warnanya. Kemudian Dewi Uma beranak lagi 3 yaitu Yamadipati, Gana dan Siwah. Mereka hadir di Setra Gandamayu. Yamadipati berujud Raksasa dahsyat. Gana berwujud Dewa kepala gajah dan berbelalai. Siwah berujud dewa berwarna hitam dan putih separoh tubuhnya. Batara suka mengganggu para Bidadari, maka Hyang Guru menyuruh Hyang Nbarda supaya mengusir Batara Gana pergi ke Marcapada, bertempat di hutan Purwakanda dan menguasai Prajurit Raksasa.
Dalam cerita-cerita kuno itu yang dibebaskan ialah mereka yang berhidup sengsara, bernoda, hina dan sebagainya. Kebanyakan mereka yang dibebaskan berjumlah satu, dua dan lima. Mereka ditakdirkan menjadi makhluk hidup sengsara, tidak berbahagia seperti dewa. Maka mereka diruwat atau dilepaskan dari hidup sengsara itu. Yang meruwat adalah Dewa atau Manusia keturunan Dewa. Mereka yang pernah meruwat yaitu Sang Hyang Guru, Kresna, Arjuna dan Sadewa.

Dalam Cerita Jawa Baru yang diruwat ialah mereka yang menjadi jatuh atau catu-makan Batara Kala. Batara Kala ialah Anak yang lahir dari Kama-salah, berasal dari Sang Hyang Guru. Mereka yang menjadi catu makan Batarkala dianggap hidup sengsara, maka harus dibebaskan dari kesengsaraan itu.

Berdasarkan atas kepercayaan dan tradisi jawa sejak jaman dahulu anak atau orang sukerta perlu diruwat dibebaskan dari malapetaka ancaman dimakan Batarakala. Ketentuan anak atau orang sukerta terdapat di dalam berbagai kitab jawa antara lain :
  1. Ontang-anting: anak tunggal, lelaki.
  2. Anting-anting: anak tunggal, perempuan.
  3. Uger-uger lawang: dua orang anak, lelaki semua.
  4. Kembang sepasang: dua orang anak, perempuan semua.
  5. Gedhana-gedhini: dua orang anak, lelaki dan perempuan, yang tua si lelaki.
  6. Gedhini-gedhana: dua   orang   anak,   perempuan  dan  lelaki,  yang  tua  si    perempuan.
  7. Pandhawa: Lima orang anak, lelaki semua, tidak diseling wanita.
  8. Pendhawa Ngayomi: Lima orang anak perempuan semua.
  9. Pendhawa Madangake: Lima orang anak, empat orang lelaki dan seorang perempuan.
  10. Pandhawa apil-apil: lima orang anak, empat orang perempuan dan seorang lelaki.
  11. Bathang angucap: orang berjalan seorang diri di waktu tengah hari, tanpa bersumping daun ( diatas telinganya ), tidak berdendang ( ngidung ) dan tidak makan sirih ( mucang ).
  12. Jisim Lumaku: dua orang berjalan di waktu tengah hari, tanpa bersumping, tidak berdendang dan tidak makan sirih.
  13. Ontang-anting lumunting tunggaking aren: orang yang tak ada  saudaranya  ( anak  tunggal )  sejak lahirnya, di tengah-tengah dua alisnya terdapat titik putih, sedang mukanya pucat pasi.
Batara Guru lalu memberikan senjata badama (golok, parang) kepada Batara Kala agar digunakan membunuh orang yang menjadi jatahnya, baru kemudian boleh dimakannya. Kepada Batara Penyarikan diberikan tugas mengikuti Batara Kala untuk mencatat cara Batara Kala memakan orang yang menjadi jatahnya.

Batari Uma memberi jatah harapan (Pengayam-ayam) yakni anak atau orang yang disebut :
  1. Tiba-sampir
    Yaitu bayi lahir pada waktu di desanya sedang ada pertunjukan wayang kulit tidak diserahkan kepada Ki Dalang. Bilamana si bayi diserahkan kepada Ki Dalang, ia menjadi saudara Batara Kala.
  2. Mancah
    Yaitu orang yang menghalangi Batara Kala mencari makan orang yang menjadi jatahnya.
Di dalam pentas  (pakeliran) lakon Murwakala:
Diceritakan, ketika Batara Kala mengejar-ngejar anak ontang-anting Jaka Jatusmati yang lari ketakutan karena akan dimangsa Batara Kala. Waktu Batara Kala mengejar Jaka Jatusmati berkali-kali terhalang oleh berbagai hal, antara lain terjatuh karena batang waluh, karena tertimpa rumah ambruk, karena Jaka Jatusmati lolos lewat bagian bawah atap rumah yang belum diberi tutup keyong, karena terpeleset oleh batu penggiling ( Gandhik, Jw ), karena terselumbat linggis penyumbat kelapa, karena tertimpa dandang (periuk tinggi penanak nasi). Kesemuanya itu disebabkan oleh kelalaian orang sehingga dapat membahayakan orang lain. Semuanya itu, dan masih ada lain-lainnya, dikutuk oleh Batara kala dan termasuk menjadi mangsanya.

Maka dapatlah disimpulkan, bahwa yang disebut manusia sukerta ada 3 macam, yakni:
  1. Golongan manusia yang cacat kodrati atau cacat karena kelahiran, seperti : Ontang-anting, Kedhana-kedhini, dan lain lain.
  2. Cacat karena kelalaian., seperti : Jisim lelaku ( Berjalan seorang diri di waktu tengah hari ) dan lain lain.
  3. Tertimpa sesuatu halangan, seperti : menanak nasi dandangtnya ambruk, mematahkan batu penggiling jamu ( pipisan ) menanam waluh di pekarangan muka dan lain lain.
Demikian untuk menjadi pengetahuan para pembaca pemerhati kebudayaan Jawa, tentunya dari saya "Salam Budaya".

Disqus Comments