Perpusdes Sebagai Pusat Kegitan Masyarakat

Perpustakaan adalah pusat informasi dan ilmu pengetahuan yang seharusnya berperan aktif dalam mencerdaskan dan memberdayakan masyarakat. Pemberdayaan yang dimaksud adalah bagaimana menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan yang didalamnya benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.

Namun sayangnya, sebagaian besar masyarakat kita belum maksimal dalam memanfaatkan perpustakaan, bahkan menganggap perpustakaan adalah kebutuhan para pelajar dan mahasiswa yang sedang dalam penyusunan tugas.

Perpusdes Sebagai Pusat Kegitan Masyarakat

Perpustakaan dalam pandangan masyarakat kita tidak lebih dari sebuah ruangan khusus yang di dalamnya terdapat ratusan bahkan ribuan buku, skripsi, majalah dan surat kabar, dimana pengunjung dapat membaca atau meminjam buku dan sejenisnya. Ruang yang digambarkan dengan kondisi dan suasana yang sepi, lengang, dan tidak sedikit yang berdebu. Dijaga oleh petugas dengan penampilan yang dingin dan kurang ramah, maka kesan sebuah perpustakaan di benak masyarakat kita menjadi negatif.

Olehnya itu, tidak heran jika kemudian pengunjung dari perpustakaan adalah umumnya mereka yang datang karena tuntutan kebutuhan akan informasi tertentu yang berkaitan dengan status akademik dan profesi yang sedang mereka jalani. Sangat sedikit pengunjung yang hadir karena kesadaran diri akan pentingnya informasi dan pengetahuan sebagai pijakan dalam mengikuti setiap perkembangan zaman.

Hal tersebut kemudian menjadi penyebab masih rendahnya minat baca dan lemahnya kapasitas menulis di masyarakat kita, terutama di desa dan daerah terpencil. Padahal sejatinya, bacaan sangat besar  pengaruhnya  terhadap pembentukan  pribadi  dan  kemajuan  bangsa. Ini pula yang menjadikan masyarakat di negara lain lebih maju dibanding masyarakat kita.

Untuk mendukung perpustakaan sebagai cikal bakal peradaban, pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang No.43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. Di dalamnya dengan sangat jelas dikatakan bahwa perpustakaan adalah sarana pembelajaran masyarakat sepanjang hayat. Perpustakaan ada untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa, dimana sangat penting untuk melibatkan masyarakat di dalamnya. Dan untuk memaksimalkan peran dan fungsi perpustakaan tersebut, maka perlu disediakan layanan perpustakaan yang sesuai dengan kemajuan teknologi dan informasi.

Dijelaskan pula bahwa, pemerintah harus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memajukan perpustakaan sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca dan tulis masyarakat. Tanpa sinergi yang kuat, cita-cita untuk mencerdaskan masyarakat melalui perpustakaan akan sulit terwujud. Dengan bersinergi, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca masyarakat melalui pengembangan perpustakaan, khususnya di pedesaaan.
  1. Meningkatkan Kualitas Layanan Perpusdes
    Rendahnya minat baca masyarakat desa dan kurangnya antusiasme untuk berkunjung ke perpustakaan bisa disebabkan karena beberapa hal terkait pelayanan di perpustakaan, yakni:
    • Kurangnya kesadaran bahwa membaca adalah jembatan informasi dan ilmu pengetahuan. Masyarakat kemudian tidak menjadikan membaca sebagai sebuah kebutuhan.
    • Ketersediaan bahan bacaan (buku, majalah, dll) yang terbatas bahkan sangat kurang
    • Tidak tersedianya layanan yang melibatkan teknologi komunikasi dan informasi, dalam hal ini computer dan internet.
    • Penataan ruangan yang kurang menarik
    • Ketidakpastian layanan perpustakaan karena petugas jaga yang kadang ada kadang tidak, menyebabkan perpustakaan menjadi lebih sering tutup dari pada buka.
    • Lokasi perpustakaan yang kurang strategis
    • Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat, sehingga mereka tidak tahu jika di desanya ada perpustakaan.

    Untuk mengatasi masalah tersebut, maka hal pertama yang harus dilakukan oleh perpustakaan desa adalah harus berani melakukan pembenahan untuk meningkatkan kualitas layanannya. Sarana fisik berupa fasilitas belajar (buku, komputer dan internet) harus bisa dimaksimalkan. Sarana non fisik berupa pelayanan terhadap pengunjung adalah poin penting yang tidak dapat diabaikan. Kedua factor tersebut menjadi kunci dalam menciptakan kenyamanan setiap pemustaka yang hadir.

    Adalah sangat penting juga untuk membekali petugas perpustakaan (pustakawan) dengan keterampilan yang mendukung fungsi dan tanggungjawab mereka dalam memberikan pelayanan kepada setiap pengunjung yang datang, yakni keterampilan tata kelola (manajemen) perpustakaan dan strategi pengembangan perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar yang tentunya harus berbasis teknologi komunikasi dan informasi sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
  2. Menjadikan Perpusdes Sebagai Pusat Kegiatan Pelibatan Masyarakat
    Sudah saatnya perpustakaan desa dijadikan sebagai pusat kegiatan yang melibatkan masyarakat sekitar. Anggapan masyarakat bahwa perpustakaan hanya sebagai tempat membaca dan meminjam buku, harus segera dirubah.

    Fungsi perpustakaan pun tidak lagi sekedar sebagai penyedia buku dan sumber literature lainnya. Tetapi perpustakaaan harus bisa dijadikan sebagai pusat pelatihan keterampilan (life skill) bagi masyarakat, terutama pelatihan bagaimana mengolah sumber daya lokal menjadi sebuah produk yang bernilai jual. Perkembangan era digital pun menuntut adanya pelatihan computer dan internet bagi masyarakat desa. Ini sangat penting agar masyarakat pedesaan menjadi melek teknologi, dapat beradaptasi dan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

    Setiap kegiatan pelibatan masyarakat (community engagement) yang dilakukan oleh perpustakaan desa sebaiknya disesuaikan dengan segment masyarakat. Pemuda, petani, kaum perempuan dan pelaku usaha mikro kecil adalah element yang mayoritas dan memiliki peran strategis dalam pembangunan desa. Potensi dan kapasitas mereka akan menjadi emas yang terpendam jika tidak dikembangkan. Untuk itu mereka harus didorong agar dapat berperan aktif memajukan desanya. 

    Ada banyak kegiatan yang bisa dilaksanakan oleh pengurus perpustakaan desa untuk menarik perhatian masyarakat sekitar agar mau mendatangi perpustakaan. Diantaranya, kegiatan lomba untuk anak TK dan SD, seminar dan workshop untuk pemuda dan remaja, pendidikan dan penyuluhan untuk kaum perempuan, serta pelatihan untuk pelaku usaha mikro yang ada di desa. Intinya bahwa setiap kegiatan yang melibatkan masyarakat, pelaksanaannya dipusatkan di gedung perpustakaan desa. Hal ini sekaligus sebagai upaya mensosialisasikan keberadaan perpustakaan desa sebagai pusat kegiatan belajar dengan berbagai macam layanan yang disediakan.
  3. Meningkatkan Anggaran Untuk Pengembangan Perpustakaan Desa

    Pembangunan tanpa anggaran adalah mustahil. Maka untuk mewujudkan nomor 1 dan 2 di atas, perlu dilakukan revisi terhadap poin-poin anggaran yang ada untuk kemudian dialokasikan pada upaya mencerdaskan masyarakat melalui perpustakaan. Dibutuhkan political will yang kuat dari pemerintah desa untuk berani membuat anggaran khusus untuk pengembangan perpustakaan desa baik secara fisik maupun non fisik.

    Komitmen pemerintah desa untuk membangun gedung perpustakaan yang bagus yang dilengkapi oleh sarana fisik dan non fisik yang memadai tentunya membutuhkan anggaran yang tidak kecil. Untuk itu, peran aktif serta dukungan pemerintah akan terwujud dalam bentuk sinergitas yang dibangun dengan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) baik di tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten. Keterbatasan anggaran di tingkat desa hanya dapat diatasi dengan membangun kemitraan yang kuat dengan berbagai pihak yang memiliki komitmen dan kepedulian terhadap upaya mencerdaskan bangsa.

Semoga dengan tiga langkah di atas, fungsi perpustakaan desa benar-benar dapat diwujudkan menjadi pusat kegiatan pelibatan masyarakat yang memberikan mafaat besar bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitarnya, sehingga  peran perpustakaan sebagai penggerak peradaban akan semakin nyata.

Disqus Comments