Mbak Ernawati: Mendulang Rupiah Dari Bungkus Kopi

Bagi sebagian masyarakat, bungkus kopi hanyalah sampah yang harus dibuang. Masuk ke tempat sampah lalu berakhir di tempat pembuangan sampah akhir atau terbuang di jalan atau berakhir di dalam tanah menunggu dekomposer mendaur ulang yang akan menghabiskan waktu ratusan bahkan ribuan tahun untuk terurai atau alternatif lain adalah dibakar yang menghasilkan asap dan menambah polusi udara.


Tapi hal ini tidak berlaku untuk Mbak Ernawati warga Desa Kemiri Lor Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo ini. Justru sebaliknya, beliau menyulap bungkus kopi menjadi lebih bermanfaat. Kreatifitas bermain disini. Siapa sangka dari bungkusan kopi yang selama ini dibuang percuma dan hanya menjadi sampah belaka serta menambah polusi ternyata dapat menjadi alternatif.

Dari bungkusan kopi yang tak terpakai ini, tercipta berbagai macam kreasi, misalnya tas, taplak meja dan karpet. Untuk menghasilkan sebuah tas, tentu saja banyak sekali bungkus kopi yang dibutuhkan. Setidaknya diperlukan lebih dari 100 bungkus kopi hanya untuk membuat sebuah tas saja dengan satu model dan motif serta ukuran tertentu. Bungkus-bungkus kopi ini dikumpulkan menurut kesamaan jenisnya masing-masing, kemudian digunting dan dilipat satu persatu baru kemudian dianyam sesuai motif, model dan ukuran yang diinginkan. Makin besar ukuran tas maka makin banyak pula bungkus kopi yang dibutuhkan.

Memang disini di perlukan kesabaran, ketelatenan dan kreatifitas yang tinggi untuk dapat menciptakan tas dari limbah bungkus kopi. Bayangkan saja, dari satu merek kopi saja bisa tercipta berbagai motif dan model yang berbeda. Berapa banyak bungkus kopi dari begitu banyak merek yang bisa digunakan untuk membuat kerajinan tangan ini? Tentu banyak sekali bukan? Pastinya bisa mengurangi jumlah sampah plastik yang sampai saat ini masih terus mencari cara mendaur ulangnya untuk mengurangi polusi.


Tidak hanya menciptakan kreatifitas, pemanfaatan limbah bungkus kopi ini juga dapat menjadi sumber rupiah bagi para pengrajin. Menurut Mbak Ernawati, satu buah tas dapat dijual dengan harga antara 20-40 ribu rupiah per buah tinggal bagaimana motifnya dan ukuranya. Harga yang cukup lumayan untuk sebuah tas hasil olahan limbah tak terpakai. Ini membuktikan bahwa limbah yang diolah secara kreatif ternyata dapat menjadi sumber penghasian tambahan bagi para pengrajinnya.

Jika saat ini seluruh dunia sedang menggalakkan program Go Green atau 3Rs (Reduce, Reuse, Recycle) untuk mengurangi dampak polusi dibumi, maka Mbak Ernawati dengan memanfatkan limbah bungkus kopi sudah membantu terlaksananya program ini. Karena jika untuk membuat satu tas saja membutuhkan setidaknya lebih dari dari 100 bungkus kopi, maka berapa banyak bungkus kopi yang tidak harus dibuang atau dibakar.


Ini baru dari bungkus kopi saja, bayangkan jika bungkus bekas makanan ringan lainya juga digunakan untuk kerajinan ini. Hal ini sangat menggembirakan bagi para pecinta lingkungan juga bagi para pengrajin karena hasil kerjanya mendulang rupiah tapi juga sudah berpartisipasi dalam program Go Green.

Kerajinan tangan seperti Mbak Erna ini bisa di tiru, hal ini tidak hanya mendukung program Go Green tapi juga bisa menjadi alternatif lapangan pekerjaan dan dapat mengurangi jumlah pengangguran dan juga bisa menjadi jalan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia. Amin

Disqus Comments