Eksistensi Wayang

Wayang merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang telah mampu bertahan dari waktu ke waktu. Daya tahan wayang yang luar biasa terhadap berbagai perubahan pemerintahan, politik, sosial budaya maupun kepercayaan membuktikan bahwa wayang mempunyai fungsi dan peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Saat ini, fungsi dan peranan wayang tidak lagi difokuskan pada upacara-upacara ritual dan keagamaan, tetapi telah bergeser ke acara “hiburan” yang mengutamakan inti cerita dengan berbagai macam pengetahuan, filsafat hidup, nilai-nilai budaya, dan berbagai unsur seni yang semuanya berpadu dalam seni pedalangan.

Singkatnya, dengan kadar seni pedalangan yang cukup mantap dan sifatnya yang multi-dimensional, wayang telah banyak memikat masyarakat penontonnya. Bagi mereka, wayang dapat merupakan hiburan yang seringan-ringannya, tetapi juga dapat menjadi bahan pemikiran yang sedalam-dalamnya.

Wayang memang telah ikut serta mendewasakan masyarakat dengan jalan membekalinya dengan konsepsi-konsepsi yang mudah dihayati dan diresapkan dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. Filsafat pewayangan membuat masyarakat penontonnya merenungkan hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, manunggaling kawula gusti, kedudukan manusia dalam alam semesta, serta sangkan paraning dumadi (kembali ke asal muasal) yang dilambangkan dengan tancep kayon oleh ki dalang pada akhir pagelaran (Wibisono, 1993).

Berbeda dengan berbagai jenis kesenian tradisional lainnya, pagelaran wayang lebih banyak menyampaikan pesan rohaniah daripada pesan lahiriah. Dengan menonton wayang, kita diajak aktif, berfikir untuk memilah-milah, di manakah posisi kita saat ini. Nilai kemanusiaan dan berbagai pemikiran filosofis yang disampaikan para tokohnya, termasuk para punakawan, sering-sering bersifat sinamudana dan tersamar, sehingga penonton tidak akan beranjak dari tempat duduknya meskipun lakon yang digelar mungkin pernah dilihatnya, bahkan mungkin lebih dari sekali-dua kali. Kalaupun mereka terkena sindiran karena dalang mengisahkan lakon yang kebetulan mirip dengan kisah kehidupannya, seringkali hal itu justru dianggap sebagai teguran halus, pangeling-eling, agar kita sadar akan kesalahan yang telah dilakukan. Alam pewayangan sering dijadikan sandaran atau pedoman sikap dan tingkah laku, bahkan karena begitu kuatnya mempengaruhi alam pikirannya sehingga merupakan sistem nilai budaya yang di antaranya didukung secara turun-temurun, diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dalam kakawin Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa seorang pujangga kraton pada masa pemerintahan Raja Airlangga di Jawa Timur, pada abad XI (1019-1042), Bab V bait 9, terdapat kalimat sebagai berikut:
Hananonton ringgit manangis asekel muda hidepan huwus wruh tuwin yan walulang inukir molah angucap hatur ning wang tresneng wisaya malaha ta wihikana ri tatwa nyan maya sahana-hana ning bawa siluman.
Artinya kira-kira:
Orang yang menonton wayang menangis, terpesona dan sedih meskipun sudah tahu bahwa yang ditonton itu hanyalah kulit dipahat, diberi bentuk manusia, dapat bertingkah dan berbicara. Yang menonton ibarat orang yang tamak akan harta dunia yang nikmat. Akibatnya mereka tergerak hatinya, tidak tahu bahwa sebenarnya hanya bayangan yang tampil laksana siluman belaka.
Dari kalimat di atas dapat disimpulkan sejak abad XI itu, pagelaran wayang telah mempesonakan penonton sampai mereka kehilangan keseimbangan emosinya.

Bagi orang  Jawa, eksistensi wayang kulit menempati kedudukan yang lebih spesifik. Karkono Partokusumo, seorang budayawan Jawa terkemuka, mengatakan bahwa wayang di Jawa mempunyai hakekat dan kandungannya sendiri. Kandungan wayang yang serba lambang, pada hakekatnya menunjukkan jati diri dan kepribadian  Jawa yang khas. Berbagai peralatan pagelaran wayang seperti kelir, gedebog, blencong, cempala dan sebagainya, semuanya merupakan ciptaan  orang Jawa yang mengandung makna-makna tertentu.

Selain itu, wayang-wayang tertentu merupakan lambang yang berbicara dalam filsafat Jawa. Misalnya saja, kayon atau kekayon atau gunungan. Gambar pohon dalam kayon melambangkan pohon surga, pohon kehidupan, pohon budi (pengetahuan), kalpataru (pohon penghargaan) dan merupakan bagian utama dari kayon, yang diartikan sebagai sumber pengetahuan atau pohon pengayom. Ada juga yang mengartikan bahwa kayon melambangkan kehidupan di dunia yang fana. Hal itu dihubungkan dengan tancep kayon sebagai sangkan paraning dumadi (kembali ke asal muasal). Masih banyak interprestasi lain tentang kayon, baik yang bersifat filosofis maupun mistis.

Tegasnya, keseluruhan pagelaran wayang, sejak dari pembukaan sampai berakhirnya pagelaran dengan tancep kayon, mempunyai kandungan filosofis yang tinggi. Tiap adegan dengan iringan gending sendiri-sendiri dan makin lama makin meningkat laras dan iramanya sehingga mencapai klimaks yang ditandai dengan tancep kayon, setelah semua masalah di dalam lakon terjawab dan berhasil diselesaikan. Kesemuanya itu menggambarkan kompleksitas kehidupan manusia di dunia ini dengan segala aspek dan dinamikanya, yang tidak lepas dari peran dan kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan maupun sebagai makhluk sosial.

Disqus Comments