Eksistensi Dalang

Dalam pagelaran wayang, dalang menempati peran dan posisi yang sangat sentral. Ungkapan Jawa dhalange mangkel, wayange dipendem menunjukkan betapa besar peranan dalang dalam pagelaran wayang. Dalang merupakan sutradara sekaligus tokoh utama dalam pagelaran. Ia adalah penutur kisah, penyanyi lagu (suluk) yang mengajak memahami suasana pada saat-saat tertentu, pemimpin suara gamelan yang mengiringi, dan di atas segalanya, dalang merupakan pemberi jiwa pada wayang atau pelaku-pelaku manusianya.

Pada jaman dahulu, peranan dalang tidak terbatas sampai disitu. Sesuai dengan fungsi pewayangan sebagai upacara ritual dan keagamaan, yaitu untuk menyembah atau menghormati arwah leluhur, dalang pun dipandang sebagai penghubung antara manusia dengan jagat besar (makro-kosmos), antara komunitas dengan dunia spiritual. Oleh karenanya, dalang mempunyai tempat dan kedudukan yang terhormat dalam kehidupan masyarakat.

Lalu bagaimana posisi dan peranan dalang saat ini?

Sesuai dengan perubahan dan perkembangan wayang yang saat ini telah beralih menjadi upacara modernisasi, dalang pun mendapat peran baru yang tetap tidak menghilangkan pamornya di masyarakat. Saat ini, wayang diharapkan menjadi sarana komunikasi yang dapat menyampaikan konsepsi-konsepsi dan ide-ide baru yang sesuai dengan gerak langkah pembangunan. Sesuai dengan sifat pagelaran wayang yang multi-dimensional, maka para dalang sebagai figur utama dan sentral, sudah sewajarnya dapat tampil dalam berbagai peranan, sebagai komunikator, seniman, pendidik masyarakat, penghibur, juru penerang ataupun kritikus sosial.

Sebagai seniman, dalang dituntut penguasaannya atas unsur-unsur seni pedalangan, yang mencakup seni drama, seni rupa, seni kriya, seni sastra, seni suara, seni karawitan  dan seni gaya. Dalang pun harus menguasai 12 bidang keahlian yang merupakan persyaratan klasik tradisional yang sangat berat tetapi mendasar, yaitu :
  1. Antawacana
  2. Renggep
  3. Enges
  4. Tutug
  5. Pandai dalam sabetan
  6. Pandai melawak
  7. Pandai amardawa lagu
  8. Pandai amardi basa
  9. Faham Kawi Radya
  10. Faham Parama Kawi
  11. Faham Parama Sastra
  12. Faham Awi Carita.
Dengan menguasai 12 persyaratan tersebut, diharapkan dalang menjadi tangguh dan sanggit, mampu menangkap selera dan suasana penonton, sanggup dan peka terhadap situasi dan kondisi masyarakat di mana wayang dipagelarkan. Sebagai seniman, dalang dapat ikut serta memupuk apresiasi seni masyarakat penontonnya dalam mencintai dan melestarikan budaya tradisi, sehingga penetrasi kebudayaan asing yang negatif dapat dicegah ataupun dikurangi. Usaha ini akan berjalan efektif apabila dalang terus berusaha membekali diri serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga ia mampu mengajak masyarakat penontonnya kepada wawasan pemikiran yang lebih luas dan maju.

Bagaimanapun, pagelaran wayang akan menjadi menarik atau tidak, bergantung pada keterampilan dan kreativitas dalang dalam membawakan cerita, baik yang bersumber pada pakem pedalangan maupun cerita-cerita carangan (gubahan). Dengan demikian, melalui metode yang khusus dan gaya penyajian yang khas, dalang sekaligus telah mampu berperan sebagai pendidik masyarakat.
Seperti diketahui, wayang sebagai kesenian tradisional telah berakar pada kebudayaan masyarakat setempat, sehingga antara dalang dan wayang sebagai sumber dan media di satu pihak, dengan masyarakat penonton sebagai khalayak sasaran di lain pihak terdapat derajat homofili yang cukup tinggi. Ini berarti antara dalang dan masyarakat penontonnya terdapat berbagai kesamaan, yang antara lain mencakup nilai-nilai, kepercayaan, status sosial,dan sebagainya. Derajat homofili yang tinggi dalam pemanfaatan wayang memungkinkan ‘pesan-pesan’ yang disampaikan mudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi khalayak sasaran.

Karakteristik lain dari pagelaran wayang, sebagaimana pagelaran kesenian tradisional umumnya, adalah adanya suatu bentuk teatral yang menonjol yang memungkinkan terciptanya komunikasi yang baik dan bersifat ‘dua-arah’ antara dalang dengan penontonnya. Memang, hakekat kesenian tradisional adalah adanya prinsip bahwa penonton merupakan bagian dari pentas itu sendiri. Dalam kondisi seperti ini, dalang sebagai komunikator secara cepat dapat mengetahui bagaimana reaksi (umpan balik) dari penonton terhadap pesan-pesan yang disampaikannya, baik isi dan atau cara penyampaiannya, apakah diterima atau sebaliknya ditolak. Hal itu memungkinkan dalang yang jeli dan terampil dapat mengontrol dan mengembangkan permainannya, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima oleh penonton sebagai suatu kewajaran (tanpa unsur paksaan).

Singkatnya, pemanfaatan wayang sebagai media komunikasi memungkinkan adanya daya vibrasi yang tinggi sehingga pesan yang disampaikan mudah diserap, diinterpretasikan serta mampu menghasilkan efek yang segera. Efek yang segera ini, sangatlah penting untuk efektivitas suatu komunikasi.

Sebagaimana kesenian tradisional pada umumnya, terutama yang mempunya unsur dialog, pagelaran wayang juga mempunyai flesibilitas penyampaian pesan yang cukup tinggi. Tantangan yang muncul bagi para dalang adalah bagaimana mengembangkan materi-materi tambahan ke dalam suatu lakon, melalui proses penyaringan dan improvisasi, tanpa merusak pakem cerita secara keseluruhan. Jangan sampai hal tersebut justru akan menimbulkan “boomerang-effect” dari khalayak penonton. Pesan dan gerak anak wayang yang dimainkan hendaknya selalu mengikuti perkembangan jaman. Dalang sebagai juru penerang harus mampu membawakan pesan, issue, yang sedang hangat berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Pada dasarnya segala nilai kehidupan, apa pun masalahnya, dapat diangkat kedalam lakon wayang, baik nilai estetis maupun nilai religiusnya. Daya tarik penyajian fenomena yang berkembang di tengah masyarakat seperti tentang masalah disiplin, kebersihan, Keluarga Berencana, kesehatan, koperasi, tertib lalu lintas ataupun siskamling sangat bergantung kepada keterampilan dalang dalam meramu sajian. Yang tak kalah pentingnya adalah perhatian dalang terhadap situasi lokasi pagelaran (misalnya kantor pemerintah atau pemukiman penduduk) serta pada pertemuan apa pagelaran dilaksanakan (peringatan, jagongan atau peresmian sesuatu). Hal itu sebenarnya merupakan materi yang tidak akan pernah habis untuk digali dan selalu variatif. Materi-materi tersebut merupakan aksesoris, pelengkap, pada pakem pedalangan sehingga pagelaran wayang tetap digemari masyarakat penontonnya.

Sementara itu, karena sifat hiburannya, pagelaran wayang sering menyerap banyak penonton. Unsur-unsur hiburan yang mewarnai pagelaran wayang antara lain lagu-lagu kegemaran penonton, teknik memainkan wayang (lincah dan mahir), dan tentu saja yang paling menonjol adalah lawakannya baik tokoh punakawan maupun tokoh-tokoh lainnya. Kenyataan itulah antara lain yang mendorong beberapa dalang untuk melakukan berbagai improvisasi, khususnya dalam seni pakeliran. Para penonton sering memberikan reaksi yang mendukung kepada dalang yang mengadakan perubahan dan penyimpangan tetapi menggembirakan, daripada dalang yang patuh kepada pakem pedalangan tetapi terlalu serius dan kaku. Masyarakat penonton menginginkan hal-hal baru, sementara di lain pihak para dalang berusaha menempati unsur regu, yaitu ia harus dapat membuat pakeliran yang tidak membosankan. Hal seperti inilah yang antara lain dipertontonkan dalang beken Ki Eko Kondo Prisianto, yang sering menampilkan dagelan (lawakan) dalam setiap adegan goro-goro. Langkah yang hampir sama dilakukan dalang setan Ki Sun Gondrong.

Improvisasi yang dilakukan beberapa dalang sebenarnya hanya merupakan variasi, selingan, tanpa mengurangi kualits pagelaran  wayang. Hal itu sekaligus merupakan salah satu cara agar wayang tetap digemari masyarakat penonton, terutama oleh kalangan muda. Terlepas dari kontroversi yang muncul, improvisasi yang dilakukan merupakan usaha positif bagi perkembangan dan pelestarian seni pewayangan, khususnya seni pakeliran. Tentu saja, hal itu harus dilakukan dengan tetap memperhatikan dan menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Tugas para dalang untuk menyajikan pakeliran yang mampu  memadukan nilai etika dan estetika, yang sekaligus mewujudkan konsep keseimbangan dalam fungsi pewayangan, yaitu antara fungsi tontonan dan tuntutan, antara fungsi hiburan dan pendidikan.

Disqus Comments