Benci Jadi Cinta

Ada cinta pasti ada benci karena hakikatnya dunia ini diciptakan berpasangan. Ada saatnya kita memulai dan pasti ada saatnya kita mengakhiri. Begitu juga dengan cinta, terkadang kita harus memulai dengan penuh kebencian namun pada akhirnya cinta bisa kapan saja datang tanpa diundang.
Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja, siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci.
Dan bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja, siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau cintai

(Imam Ali RA)
Ledekan teman-teman Anda itu sering membuat hati Anda panas. Bahkan mati-matian Anda coba menyangkalnya, sampai kapan pun hati Anda tidak akan pernah luluh pada si dia. Namun, apa boleh di kata, Anda sendiri Tidak pernah punya kuasa untuk melarang cinta datang.


Sudahlah syukuri saja, cinta itu tetap anugrah meski kehadirannya tak sesuai dengan harapan. Sebab semakin keras Anda menolaknya, cinta pun justru akan semakin kuat menarikmu.

Cinta dan benci itu beda tipis, bisa jadi lebih tipis dari rambut Anda yang dibelah menjadi tujuh. Sampai-sampai Anda sendiri tidak akan pernah sadar dengan perbedaan di antara keduanya. Apalagi jika keduanya hadir di waktu bersamaan, Anda akan dibuat resah dan gelisah yang tak berujung.

Perasaan dan pikiran kamu pun akhirnya menciptakan berdebatan sendiri.
Kenapa bisa suka sama dia?
Kenapa harus dia?
Mulai dari stalking media sosialnya, tak jarang Anda mengkritik apa yang diunggahnya di sana. Sampai-sampaiAnda tahu kebiasaan lain dia atau bahkan tahu apa yang kira-kira akan diomongkan olehnya. Sedangkan orang lain yang mungkin dekat dengan dia saja belum tentu memperhatikannya seperti apa yang Anda lakukan.


Tidak hanya rasa suka yang membuat Anda memperhatikan seseorang, tapi rasa benci pun bisa. BahkanAnda yang notabenya benci setengah mati justru akan memperhatikan dia lebih detail daipada orang lain. Makanya pernah ada yang bilang, orang yang membenci Anda, sebenarnya ia adalah orang yang paling sayang dengan Anda.

Mungkin semua orang tahu, setiap kali bertemu, tidak lengkap rasanya kalau tidak membuat perdebatan kecil atau sekedar memasang wajah permusuhan. Jika Anda dan dia berada di satu forum diskusi bersama, sudah bisa dipastikan adu argument yang di dominasi oleh kalian berdua akan terjadi.
Tahukah kalian?
Tuhan selalu punya cara mempersatukan dua orang anak manusia.
Seiring berjalannya waktu, kebiasaan kalian berdebat justru menjalin ikatan emosi di antara Anda dan dia. Perdebatan atau permusuhan lah yang membuat kalian bisa mengerti satu sama lainnya, dan paham bagaimana saling mengisi kekurangan.
Benci tapi rindu
Setiap bertemu pasti bertengkar. Tapi sekalinya tak bertemu rasanya seperti ada yang kurang dan bisa jadi itu rindu. Sebenarnya ini pun sama seperti ketika Anda suka dengan seseorang dan terbiasa bertemu. Di mana Anda tetap memiliki keterikatan dengannya yang tak hanya perihal emosi semata. Bisa jadi juga, Anda sebenarnya sudah mulai suka sama dia. Tapi sayangnya grogi sering membuat kamu salah tingkah atau sebenarnya Anda tidak hanya khawatir perasaan itu akan tumbuh subur, tapi Anda pun terlalu takut jika dia tahu perasaan Anda yang sebenarnya.

Dari pada Anda pusing memikirkannya, hal yang lebih baik Anda lakukan adalah let it flow (biarkan mengalir). Kenapa saya katakan demikian? Bukannya saya sok tahu, tapi menurut beberapa posting di sosmed dan website yang saya baca dan akhirnya saya menyimpulkan:
Semakin kamu melawan perasaan Anda, rasa yang Anda miliki untuknya akan semakin dalam dan menyiksa karena Anda enggan untuk mengakuinya.
Jatuh cinta itu memang indah, tapi tidak selamanya Anda dibuat terbuai olehnya. Anda bisa dibuatnya galau, sedih, sensitif, bahkan kecewa apalagi jika Anda jatuh cinta dengan orang yang tidak Anda perkirakan/duga sebelumnya.

Satu pesan saya yang harus Anda ingat, jangan pernah menaruh harapan terlalu tinggi karena hati orang tidak ada yang tahu. Tidak ada salahnya, jiak Anda mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yakni cinta bertepuk sebelah tangan

Disqus Comments