Perubahan Budaya Pesantren Dalam Pengembangan Budaya Nasional

Sejarah telah membuktikan, Kehadiran pondok pesantren telah mengambil peranan penting dalam perintisan dan pengisian kemerdekaan Indonesia yang kaya dengan kebudayaan. Sebagai bagian dari kebudayaan nasional, maka pesantren diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai suatu sistem gagasan dan pralambangan yang bemberikan identitas kepada warga negara Indonesia; tetapi juga sebagai suatu sistem gagasan dan pralambang yang dapat di pakai oleh semua warga negara Indonesia yang beraneka ragam itu, untuk saling berkomunikasi dan dengan demikian dapat memperkuat solidaritas.

Disamping itu, pondok pesantren juga mengalami perubahan dalam berbagai sektor. Tidak hanya dalam bidang sistem budayanya, tetapi juga sistem sosial dan kebudayaan fisik. Terjadinya perubahan-perubahan tersebut seiring dengan penyebaran agama islam oleh para wali dan kyai, khususnya idealisasi kyai, santri, pengasuh dan pengurus pondok pesantren, kebijakan pemerintah tentang penyelenggaraan pendidikan, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dinamika Budaya Pesantren
Saat Islam masuk di Indonesia, pondok pesantren lebih berfungsi sebagai pengembangan budaya yang sifatnya lokal, yakni paham tarekat, karena memang waktu itu kegiatan Islam lebih banyak bersentuhan dengan tarekat, di mana terbentuk kelomok-kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan-melaksanakan dzikir (dzikir dengan formula kata-kata tertentu) dan wirid, Serta para kyai yang memimpin tarekat mewajibkan pengikutnya untuk melaksanakan suluk yaitu tinggal bersama-sama sesama anggota tarekat di sebuah masjid selama 40 hari untuk melakukan ibadah-ibadah di bawah bimbingan seorang pemimpin tarekat. Untuk keperluan suluk ini, para kyai menyediakan ruangan khusus untuk penginapan dan tempat memasak di kiri dan kanan masjid. Disamping amalan-amalan tarekat, pusat-pusat pesantren semacam itu mengajarkan kitab-kitab dalam berbagai cabang pengetahuan agama Islam kepada sejumlah pengikut inti (santri). Dengan demikian, pada masa ini lembaga-lembaga pengajian untuk anak-anak dan lembaga-lembaga pesantren yang menjadi pusat organisasi tarekat tidak bisa dipisahkan , keduanya saling menunjang dan meupakan satu kesatuan dalam pendidikan tradisional.

Ini menarik untuk diperhatikan, ternyata sistem madrasah yang berkembang di negara-negara Islam lain sejak permulaan abad 12 M, tidak muncul di Indonesia. Padahal sebelum itu, yaitu tahun 1062 M telah ada pesantren di Pamekasan Madura, yaitu Pesantren Jan Tapes II, berarti sebelumnya juga ada pesantren yang lebih tua lagi yaitu Pesantren Jan Tapes I. 

Fungsi pondok pesantren mulai bergeser ke arah pengembangan budaya yang lebih besar, tidak hanya tasawuf tetapi juga budaya-budaya yang lain. Seiring dengan penyebaran dan pendalaman Islam secara intensif yang terjadi pada masa abad ke 13 M sampai akhir abad ke 17 M. Dalam masa itu, berdiri pusat-pusat kekuasaan dan studi Islam, seperti di Aceh, Demak, Giri, Ternate dan Tidore, serta Gowa Tallo di Makasar. Dari pusat-pusai inilah Islam tersebar ke seluruh plosok nusantara melalui para pedagang, wali, ulama', mubaligh dan sebgainya. Sejak abad ke 15 M, Islam praktitis menggantikan dominasi ajaran Hindu.

Perubahan fungsi pesantren sangat mencolok dengan hadirnya madrasah di pondok pesantren pada abad ke 16 M, tetapi masih bercorak tasawuf. Pesantren-pesantren tersebut mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang jurisprudensi, teologi dan tasawuf.

Pada abad ke 18 M, fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan budaya rakyat terasa sangat berbobot terutama dalam bidang penyiaran agama. Keahiran pesantren baru selalu di awali dengan cerita "perang nilai" antara pesantren yang akan berdiri dengan masyarakat sekitarnya , dan di akhiri dengan kemenangan pihak pesantren, sehingga pesantren dapat di terima untuk hidup di masyarakat dan kemudian menjadi panutan masyarakat dalam bidang kehidupan moral. Bahkan dengan hadirnya dengan jumlah santri yang banyak dan datang dari berbagai masyarakat lain yang jauh, maka terjadi kontak budaya antara berbagai suku, dan masyarakat sekitar. Kehidupan masyarakat sekitar menjadi semakin ramai, banyak pedagang-pedagang kecil lahir, bahkan kemudian muncul pasar santri di beberapa pesantren.

Selama masa kolonial, pesantren lembaga pendidikan yang paling banyak berhubungan dengan rakyat. Menurut peranan pemimpin-pemimpin pribumi sebagai akibat dari konsolidasi kekuasaan Belanda, telah memperdalam jurang antara rakyat dengan pemimpin pribumi. Semakin terseretnya pemimpin pribumi ke dalam kekuasaan asing, begitu berhati-hati untuk menghindri kecurigaan Belanda untuk orang-orang yang dicap Belanda "Orang-orang fanatik"; akibatnya mereka menjadi sasaran penghinaan para kyai dan santri. Inilah yang menyebabkan munculnya semangat baru dalam keaagamaan (religious revivalism) yang kemudian melahirkan tumbuhnya proto-nasionalisme dari santri pondok pesantren di abad 19 M.

Di samping itu, perkembangan yang sangat penting sejak pertengahan abad 19 M adalah, banyak anak muda santri dari Jawa yang tinggal menetap beberapa tahun di Makkah dan Madinah untuk memperdalam ilmu pengetahuan Islam. Bahkan banyak diantara mereka yang menjadi ulama yang terkenal dan mengajar di Makkah dan Madinah.

Penyelenggaraan Pendidikan Di Pesantren
Pada aspek penyelenggaraan, fungsi pesantren mengalami perubahan yang sangat berarti, yaitu dalam tahun 1910 M pesantren mulai membuka pondok untuk santri wati (yaitu pesantren Denanyar Jombang), dan tahun 1920-an beberapa pesantren mulai mengajarkan pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Belanda, Berhitung, Ilmu Bumi, dan sejarah. Ini berarti, penyamarataan kesempatan dan peran antara kaum wanita dan laki-laki mulai terjadi.

Diperkenalkan sistem madrasah, kesempatan pendidikan untuk santri putri, dan pengajaran pengetahuan umum dalam lingkungan pesantren merupakan jawaban positif para kyai terhadap perubahan-perubahan sebagai akibat politik Belanda di Indonesia sejak akhir abad ke-19 M.

Sejak perkembangnya sistem madrasah di pesantren tersebut, salah satu ciri penting dari budaya pesantren menghilang, yaitu budaya "santri kelana". Diterapkan sistem kelas yang bertingkat-tingkat dan ketergantungan pada ijazah formal sebagai tanda keberhasilan pendidikan seorang santri, menyebabkan seorang santri harus tinggal dalam satu pesantren saja untuk waktu bertahun-tahun. Seorang santri hampir tidak mungkin mengulangi sebuah kitab dengan kyai yang lain setelah menyelesaikan kitab tersebut di suatu pesantren.

Namun demikan, pesantren dapat memetik hasil yang positif dengan sistem madrasah, yaitu keberhasilan para kyai mengkonsolidasikan funsi dan kedudukan pesantren dalam menghadapi perkembangan sekolah-sekolah Belanda.

Analisis Perubahan Fungsi Pesantren
Dengan menggunakan perspektif teori tersebut, tentunya saja berubah fungsi pesantren dalam kerangka pengembangan budaya nasional tidak lepas dari jalinan makna. Pesantren yang dahulunya hanya menyuluhkan aktivitas-aktivitas keagamaan berupa kajian-kajian kitab agama berbentuk sorongan (bimbingan individu) dan bandongan (ceramah umum) dengan tanpa pembagian kelas, berubah menjadi lembaga pendidikan keagamaan dengan sistem madrasi (mengkaji kitab-kitab agama dan pelajaran umum), bahakan merupakan sentral pendidikan dengan multi sistem, yaitu sistem pesantren, sistem madrasi, sistem persekolahan, serta akhir-akhir ini ditambah pula dengan sistem kurikulum muatan lokal berupa ketrampilan-ketrampilan khusus. Terlebih dengan didirikan perguruan tinggi di berbagai pondok pesantren tersebut seperti di An Nawawi Berjan Purworejo. Belum lagi masuknya media informasi ke pondok pesantren, misalnya; TV, Koran, Radio dan Pusat Informasi Pesantren (PIP) yang di program oleh pemerintah. Sudah tentu perubahan ini tidak lepas dari peranan para kyai sebagai penguasa tunggal di pesantren yang mulai terbuka akan perubahan jaman.

Kalau disimak lebih lanjut, pada dasarnya semua pesantren berangkat dari sumber yang sama, yaitu ajaran islam. Namun terdapat perbedaan filosofi di antara mereka dalam mmahami dan menerpkan ajaran-ajaran Islam pada bidang pendidikan sesuai dengan kondisi budaya sosial masyarakat yang melingkarinya. Perbedaan-perbedaan itu pada dasarnya berpulang pada perbedaan pandangan hidup kyai yang memimpin pesantren mengenai konsep teologi, manusia dan kehidupan, tugas dan tanggungjawab manusia terhadap kehidupan dan pendidikan.

Menurut Kuntowijoyo, pesantren kini tidak semata-mata sepenuhnya merupakan lembaga desa. Perjalanan melalui tiga fase, yaitu ketika pesantren masih terpadu dengan desa, kemudian menjadi terpisah dengan desa, dan akhirnya dapat menjadi lembaga yang sama sekali terasing dari desanya. Pergeseran ini seiring dengan bertambah besarnya lembaga pesantren dan jumlah santrinya.

Sekalipun demikian pesantren tetap berfungsi sebagai pengembangan dan pewarisan budaya asli (budaya santri) yang sudah tentu sangat besar sumbangannya terhadap pengembangan kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional akan matap apabila di satu pihak budaya-budaya nusantara asli tetap mantap dan di lain pihak kehidupan nasional bermakan oleh seluruh warga masyarakat Indonesia.


Kebudayaan nasional hanya dapat berkembang manakala merupakan usaha bersama keseluruhan masyarakat dan pemerintah, dengan berpatokan pada UUD 1945. Begitu pula pondok pesantren akan dapat mengembangkan kebudayaan nasional manakala terjalin kerjasama antara kyai, pengasuh, santri, pihak yayasan dan pemerintah dengan tetap berpatokan pada UUD 1945. Kebersamaan itu pula yang menjadi penjamin terjadinya pengalihan cara dan pandangan hidup itu dari generasi ke generasi berikutnya.

Disqus Comments