Skip to main content

Mendidik Anak Bagai Mengukir di Atas Batu

Titian rumah tangga yang telah berjalan menyertakan suka duka karena hadirnya sang buah hati. Anak akan menjadi tumpuan cinta dan asa yang menyengat dada. Anak akan menjadi qurota a'yun jika ia memenuhi kriteria yang telah disyaratkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, ia akan menjadi pengobar hati dan pembuat bencana jika jauh dari kriteria Allah dan Rasul-Nya. Kriteria itu adalah saleh.

muhammad hanif aldiyansah

Anak saleh bagaikan stetes air di tengah Gurun Sahara yang tandus. Ia akan menjadi pelita di tengah gelapnya malam. Ia akan menjadi penyelamat orang tua di akhirat. Anak saleh adalah idaman dan dambaan oleh setiap orang tua. Siapa sih yang tidak ingin punya anak saleh? Namun, adakalanya orang tua tidak sadar bahwa karakter anak di masa depan adalah akibat dari hasil bimbingan/didikan kita di masa kecil.

Masa kanak-kanak adalah masa yang penuh dengan canda tawa. Hampir seluruh waktu sang anak hanya dipergunakan untuk bermain-main. Sangat berbeda dengan orang dewasa. Hal itu karena otak anak-anak belum terisi banyak hal.

Masa kecil si buah hati kadang membuat kita gemes dan merasa sangat terhibur. Namun, disatu sisi kadang kita mendapati si anak bandel dan merepotkan sehingga kita dibuat marah olehnya.

Mendidik anak yang nakal dan badel tadi merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua. Kita tidak bisa mengelak sedikitpun. Semua itu nanti akan di mintai pertanggungjawaban oleh Allah karena anak adalah amanah bagi orang tua.

Ada yang berkata:
Mendidik anak bagai mengukir diatas batu.
Mendidik anak bagai mengukir diatas batu. Maksudnya, jika kita mengukir di atas batu, kita mengukirnya dengan keras bisa jadi batu tersebut akan pecah. Namun jika kita mengukir dengan perlahan, lukisan tidak akan jadi. Lalu bagaimana solusinya?

Solusinya kita wajib bersabar sebab semua itu butuh proses. Kita mesti tahu hendak dibawa ke manakah anak kita dan bagaimana kita menerapkan metode pendidikan untuk anak. Kembali saya ingatkan, ajak lah anak kejalan Allah SWT dan Rasul-Nya. Pendidikan nabawi lebih mulia dan lebih berhasil serta penuh dengan keselamatan.

Pemahaman orang tua pada masa kini cukup unik. Mereka mengira pendidikan ya hanya di sekolahan, sedangkan di rumah bukan. Maka, ketika mendapati anak mereka susah di atur dan suka melawan orang tua, yang di salahkan adalah sekolahannya.

Ini merupakan hal yang salah kaprah. Pendidikan anak ada pada orang tuanya sebab orang tua lah yang melahirkan. Sekolahan cuma sebagai sarana mempelajari dunia luar. Belajar bahasa dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa kunci masa depan anak ada pada diri kita. Kelak, anak kita menjadi seorang Yahudi, atau Nasrani bergantung kita, seperti yang di sabdakan oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda:

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

Artinya: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Muslim)

Jangan pernah bosan mendidik anak. Indahnya mengukir di atas batu akan terasa setelah Anda mencoba bertahan pada setiap ketidakenakan. Yang namanya anak kecil pasti akan membosankan karena yang dilakukan hanya itu-itu saja. Yang namanya anak kecil pasti akan membuat kita jengkel sebab cara berpikirnya masih sangat minim. Dia belum tahu sopan santun dan tata krama.

Tugas orang tualah untuk memahamkan dirinya soal sopan santun dan tata krama serta menjejali otaknya dengan segala macam kebaikan. Dengan demikian, akan terbentuk sebuah mindset yang bagus, yaitu mindset agamis yang bisa memuliakan orang tua di dunia dan akhirat. Mindset yang akan membawa dirinya dalam derajat mulia.

Sekian dan terima kasih telah melakukan kunjungan dan membaca tulisan kami (penulis), ini adalah pandangan kami (penulis), yang tentunya tidak semerta-merta benar adanya, kami (penulis) hanya mencari dan memposisikan mana yang seharus diposisikan, menyalahkan mana yang seharus disalahkan, dan membenarkan mana yang seharusnya dibenarkan. Ada kesalahan dan kekeliruan dalam penafsiran dan cara pandang kami (penulis), kami (penulis) mohon maaf  yang setulus-tulusnya dan tak lupa kami selalu meminta kritik dan sarannya melalui fasilitas yang tersedia di laman ini, semoga ada hikmah yang bisa di ambil dari tulisan ini dan semoga bermanfaat. Amin
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar