Skip to main content

Langkah-Langkah Dalam Pemahaman dan Telaah Puisi

Dari jaman ke jaman wujud struktur puisi itu berubah-ubah tetapi tetap tersetruktur. Majas, versifikasi dan pengkonsentrasian bahasa merupakan unsur-unsur puisi yang tetap bertahan. Struktur puisi dibangun oleh struktur fisik (metode pengucapan makna) dan struktur batin (makna) puisi.

Dalam setiap pembahasan puisi baik puisi lepas maupun kumpulan puisi, kiranya kita tidak mungkin melupkan penyair dan kenyataan sejarah yang memberikan latar belakang terhadap makna puisi itu secara menyeluruh sebagai suatu totalitas. Aliran filsafat, agama, pandangan hidup, latar belakang sosial budaya, dan latar belakang pemikiran atau disiplin ilmu kiranya memberi warna pada puisi yang diciptakan. Demikian juga jaman di saat puisi di ciptakan juga akan memberikan corak puisi yang diciptakan. Puisi yang diciptakan sekitar tahun 1960 akan di pandang ketinggalan jaman jika memakai prinsip-prinsip soneta atau gurindam. Tetapi puisi tahun 1960 juga tidak dapat di didekati dengan kriteria tahun 1970.

Pembahasan puisi Indonesia dapat lebih terarah pada sasaran yang tepat dengan mempertimbangkan latar belakang penyair dan kenyataan sejarah itu. Berikut langkah-langkah dalam menelaah puisi dapat melalui tahap-tahap sebagai berikut.
  1. Struktur Karya Sastra
    Pada tahap pertama kita berusaha memahami struktur karya sastra secara umum. Apakah puisi ini bersetruktur sebagai puisi lama, baru, angkatan 45, ataukah puisi kontenporer. Apakah bentuk puisi ini konvensional ataukah nonkonvensional. Penelaah berusaha memahami bait-bait dan lirik-lirik, serta memahami secara global tema apakah yang di kemukakan oleh penyair.
  2. Penyair dan Kenyataan Sejarah
    Untuk melengkapi pemahaman secara global karya sastra yang telah kita telaah, maka kita bahas siapa penyairnya, bagaimana aliran filsafat, corak khas yang menjadi ciri dari jaman penyair itu berkarya, kata-kata dan ungkapan khusus yang berhubungan dengan penyair, aliran, filsafat, dan jaman saat puisi itu diciptakan. Dengan dilengkapi data tentang penyair dan kenyataan sejarah ini, totalitas puisi akan mudah diinterprestasikan.
  3. Telaah Unsur-Unsur
    Struktur fisik dan struktur batin puisi di telaah unsur-unsurnya. Kedua struktur itu harus mempunyai kepaduan dan mendukung totalitas puisi. Telaah ini menyangkut unsur-unsur puisi dan berusaha membedah puisi sampai ke unsur yang sekecil-kecilnya. Ditelaah bagaimana struktur fisik digunakan untuk mengungkapkan struktur batin dan bagaimana struktur batin di kemukakan. Telaah yang demikian menghasilkan pembahasan puisi secara lebih mendalam.
    • Sruktur fisik
      Dalam telaah struktur fisik dibahas bagaimana kecakapan / kreatifitas penyair dalam menciptakan puisi. Maka struktur fisik di sebut pula metode puisi. Ditelaah bagaimana memilih, mengurutkan, dan memberi sugesti kata (diksi); bagaimana penyair menciptakan pengimajian; bagaimana kata-kata di perkongkret; bagaimana penyair-penyair menciptakan lambang dan kiasan (majas); bagaimana versifikasi dalam puisi itu; dan bagaimana penyair menyusun tata wajah puisi. Telaah struktur fisik tidak dapat dilepaskan dengan telaah struktur batin.
    • Struktur batin
      Semua unsur struktur fisik digunakan penyair untuk mengungkapkan tema dan amanat yang hendak di sampaikannya. Dengan kata lain, struktur fisik dan struktur batin atau struktur tematik dan struktur sintatik tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kemampuan memahami struktur fisik secara mendalam memungkinkan pembaca memiliki kemampuan menghayati makna yang hendak disampaikan oleh penyair karena tema, perasaan, nada, dan amanat di sampaikan melalui struktur fisik.

      Adanya jalinan anatara struktur fisik dan struktur batin yang begitu kuat, menyebabkan perlunya pembaca memahami kedua struktur ini secara bersama-sama. Tingkat pemikiran, luapan rasa hati penyair, dan tingkat imajinasi (pengalaman) penyair, diungkapkan dengan metode atau teknik pengucapan khas milik penyair. Nilai artistik sebuah karya sastra terletak dari tepat tindakannya penyair mengungkapkan struktur batinnya ke dalam struktur fisik (teknik). Jika takarannya tepat, akan terasa ada keharmonisan antara kedua struktur itu. Keharmonisan antara kedua struktur itu tidak bersifat statis. Pembaca menghendaki sesuatu yang baru. Oleh sebab itu, faktor kreatifitas penyair juga ikut berperan dalam menentukan nilai artistik sebuah puisi. Jadi, struktur batin dan gaya pengucapan disampaikan lewat bahasa penyair merupakan dua hal yang saling berhubungan dan saling menentukan.
  4. Sintesis dan Interprestasi
    Setelah menelaah struktur puisi secara mendalam sampai ke unsur-unsurnya, kemudian kita dapat mensintesiskan telaah kita itu. Sintesis itu dapat berwujud jawaban atas pertanyaan sebagai berikut.
    • apakah amat (pesan) yang di sampaikan penyair?
    • Mengapa penyair menggunakan bahasa yang demikian (hubungannya dengan perasaan dan nada)?
    • Apakah arti karya tersebut bagi kita (peneliti)?
    • Bagaimana sikap anda terhadap apa yang di kemukakan penyair?
    • Bagaimana penyair menciptakan puisi itu, apakah cukup mahir?
     Apabila kita menerapkan langkah-langkah tersebut kita akan dapat menelaah puisi dengan benar. Semoga bermanfaat!!!
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar