Skip to main content

Pentingnya mengembangkan sikap yang kreatif dan mandiri pemuda desa

Untuk melakukan  sebuah peubahan memang perlu dan wajib melakukan pengorganisasian. Dalam pengorganisasian sangat penting di kembangkan kreatif dan mandiri dari seorang pemuda dan tentunya berikut organisasi kepemudaan itu sendiri. Mengapa? Tidak lain hal itu sebagai wujud dan contoh untuk tujuan bagaimana membangun desa yang kreatif dan mandiri.

Apa yang di maksud dengan kreatif atau kreatifitas?
Kata tersebut bisa diartikan sebagai kecerdasan manusia dalam memahami persoalan dengan teliti, luas, dan mendalam. Dengan sikap kreatif tersebut akan diperoleh sebuah solusi yang efektif, reflektif, sederhana, dan pas untuk sebuah kondisi tertentu.

Jadi, misalkan ada persoalan desa tentang bagaimana menghadapi tokoh suatu masyarakat desa yang melakukan yang melakukan penggelapan dana KUT (kredit usaha tani). Pada waktu itu masyarakat bingung karena merasa sungkan. Akan tetapi, mereka juga jengkel karena ada dana yang di korupsi. Padahal dana tersebut dapat mereka gunakan untuk membayar hutang atau menggembangkan usahanya, atau katakan bisa utuk membeli pupuk.

Kita dihadapkan bagaimana memecahkan persoalan tersebut dengan agenda, yaitu menuntaskan persoalan itu dengan jalan uang kembali kepada rakyat sekaligus agar tuntutan nama tokoh tersebut jangan dijatuhkan terlalu dalam.

Nah, ada pemuda yang punya pemikiran agar dana tersebut diberikan dan disalurkan secepatnya kepada masyarakat dengan jalan di talangi dahulu oleh pemerintah desa. Kemudian memberi jangka waktu satu bulan atau dua bulan kepada tokoh masyarakat tersebut untuk mengembalikannya. Selanjutnya, tokoh masyarakat tersebut dipecat dari jabatannya sebagai pengelola dana KUT agar terjadi keadilan. Namun di sepakati pula bahwa tidak perlu demo-demo, diselesaikan secara kekeluargaan, rembug, dan musyawarah yang baik. Bisa jadi ini ide kreatif. Kalau tokoh masyarakat tersebut tidak berani berani berkomitmen maka serahkan saja kepada pihak kepolisian.

Sementara itu, kata mandiri bisa diartikan mandi sendiri? (Eh, jangan tertawa dulu). Arti demikian bisa jadi benar asal penjelasan selanjutnya dapat diterima secara nalar sehat. Misalnya ketika kecil kita tentu belum bisa mandi, akhirnya dimandikan oleh orang tua, dukun bayi, bidan, atau perawat. Setelah proses pembelajaran mandi tersebut, ketika kita mulai sekolah dasar kita bisa mandi sendiri sehingga tidak merepotkan ibu yang sedang memasak bukan?

Nah begitu pula halnya ketika kita menjadi pemuda. Setiap pergi kesekolah, pemberiannya uang jajan adalah bentuk belum kemandirian kita. Hal tersebut biasanya berlangsung selama 12 tahun. Namun, setelah kuliah tentunya pemuda desa harus berusaha dan membuka peluang untuk mencari uang minimal untuk makanannya.

Sutarto, Seorang dari salah satu penduduk desa di wilayah Yogyakarta melakukan hal tersebut semenjak dirinya masuk perguruan tinggi. Dia punya keinginan kuat untuk kuliah. Orang tuanya sebenarnya mau memenuhi hasratnya asalkan hanya membiayai urusan kuliahnya, sementara untuk jajan, beli buku, dan buat makalah biasanya cari sendiri.

Disela-sela Ia belajar (setiap hari mungkin kuliahnya sekitar 2jam sampai 4 jam), tarto berjualan buku. Dari kegiatan tersebut, Ia mendapatkan uang sekitar 20.000 sampai 50.000 rupiah setiap hari.

Tarto melakukannya selama 2 tahun. Memasuki tahun ketiga ada program beasiswa dari salah satu perusahaan besar dan ternama. Oleh karena Tarto rajin dan serius, Ia pun dapat lolos saat mengajukan beasiswa. Ia memang mendapatkan dana beasiswa sampai Ia lulus satu tahun kemudian.

Sekarang Ia sudah satu tahun staf perpustakaan LSM di kota yang sama (Yogyakarta). Gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhannya bahkan bisa membantu orang tuanya sebagai petani yang berlahan kecil.

Sebagai catatan, Tarto adalah contoh kecil dari salah satu pemuda desa yang berhasil menciptkan kemandirian dan berani melepaskan ketergantungan kepada orang tuanya yang jelas tidak mampu memenuhi uang jajannya. Tarto juga sebagai contoh calon pemberdayaan masyrakadesa ketika konteks permasalahan adalah kemiskinan. Oleh karena itu, sebelum mengatasi kemiskinan di masyarakat penting mengatasi kemiskinan diri sendiri.

Lantas bagaimana konteks kemandirian dalam sekala desa yang hendak dikerjakan oleh pemuda desa yang memiliki organisasi yang harus mandiri pula? Disini mari kita simak pendapat dari Wahyudin Sumpeno tentang bagaiman membentuk kemandirian lokal.

Menurutnya pendekatan pembangunan melalui cara pandang kemandirian lokal mengisyaratkan bahwa semua tahapan dalam proses pemberdayaan masyarakat desa harus dilakukan secara desentralisasi. Upaya pemberdayaan dengan prinsif sentralisasi, deterministik dan homogen merupakan kebijakan yang harus di hindari.

Oleh karena itu, upaya pemberdayaan yang bernasis pada pendekatan desentralisasi akan menumbuhkan kondisi otonom, dimana disetiap komponen akan tetap eksis dengan bernago keragaman yang di kandungnya. Upaya pemberdayaan yang berciri sentalistik tidak akan mampu mengenali dan menemukan karakteristik spesifik tatanan yang ada dan cenderung atau secara potensial akan mengabaikan karakteristik tatanan.

Sebaliknya, upaya pemberdayaan masayarakat yang dilakukan secara terdesentralisasi akan mampu mengakomodasikan berbagai keragaman tatanan.Pembenaran pendapat demikian akan dipandang dapat di pandang sebagai suatu sistem nonlinear yang memiliki respon sangat peka terhadap perubahan input. Mengingat bahwa input adalah suatu variabel lokal, mudahlah mengerti dan di pahami bahwa kebijakan yang berhasil pada suatu tatanan pembengunan daerah tertentu memiliki kemungkinan untuk memicu tatanan lainya.

Masih menurut Wahyudin Sumpeno, terhadap dua prinsip dasar yang selayaknya dianut dalam proses pemberdayaan. Pertama, menciptakan ruang atau peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan dirinya secara mandiri dan menurut cara yang dipilihnya sendiri. Kedua, Mengupayakan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk memanfaatkan ruang atau peluang tercipta.

Berkaitan dengan prinsip tersebut, kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah pada setiap tingkata, mulai dari nasional sampai kabupaten/kota adalah penataan kelembagaan pemerintah. Penataan tersebut dalam arti menghilangkan struktur birokrasi yang menghambat terciptanya ruang yang dimaksud tersebut, termasuk perturan perundang-undangan dan atau sebaliknya. Selain itu jugapenting membangun struktur birokrasi yang dititik beratkan pada pemberian pelayanan pada masyarakat serta peraturan perundangan yang memudahkan atau yang meningkatkan aksesbilitas masyarakat di segala bidang kehidupan.

Kebijakan ini diterjamahkan misalnya dibidang ekonomi berupa peningkatan aksesbilitas masyarakat terhadap faktor-faktor produksi dan pasar. Sementara itu, dibidang sosial poitik kebijak tersebut berupa tersedianya berbagai pilihan bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya. lebih dari itu kemandirian lokal sangat tergantung bagaiman masyarakat desa dapat memegang kendali penyelenggaraan pembangunan dan menentukan sendiri keputusan yang dianggap penting untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Dari uraian yang digambarkan Wahyudin Sumpeno, kita bisa menarik sebuah kesimplan akan pentingnya partisipasi masyarakat. Dalam hal ini menggunakan partisipasi aktif penting pula menumbuh kembangkan partisipasi masyrakat agar muncul dan menentukan sendiri kebutuhan, berikut solusi atas persoalanya. Apa yang terpenting dari proses pemberdayaan menuju kemandirian masyarakat desa yang perlu digarap pemuda desa adalah menyadarkan masyarakat, bahwa yang bisa mengubah suatu persoalan desa adalah masyarakat desa itu sendiri.

Oleh karena itu, sangat lucu ketika ada orang yang merasakan kelaparan atau kemiskinan, yang menganalisi dan mengungkapkan tersebut adalah orang kaya. Bukannya tidak boleh. Akan tetapi hal itu sebatas analisis yang melupakan persoalan rasa, rasa kemanusiaan. Bukankah lebih menarik digabungkan saja?

Kita sebagai pemuda desa harus mampu mengubah paradigma masyarakt yang tergantung. Kita harus memajukan desa kita atau mengubah nasibnya. Kita harus menjadi subjek bagi perubahan karena kita adalah yang selama ini paling tahu persoalan yang kita hadapi. Tentunya pemuda harus bisa memberikan jalan dan informasi yang membuat mereka selain memiliki kesadaran tentunya berorganisasi dan menjaga nilai-nilai perjuangan secara konsisten dan bersama-sama.

Ada satu kasus tentang petani lele di salah satu desa, di Tulungagung, Jawa timur. Ia sedang menghadapi persoalan ketika harga pakan naik tiga kali lipat, sementara harga lele hanya naik satu kali lipatannya. Para petani lele juga di hadapkan masalah karena sebagaian besar lelenya matu ketika terjadi perubahan musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Oleh karena itu, tidak sedikit modal yang ludes hanya dalam hitungan dua minggu atau satu minggu. Para petani lele juga menghadapi pedagang-pedagang lele yang nakal (selalu mempermainkan timbangan, penentuan harga tidak pasti dan bisa berubah, serta pembayaran uang yang selalu di ulur-ulur).

Selain hal tersebut, dia juga dihadapkan pada masalah kegiatan pemuda di bidang keagamaan yang kurang atau tidak ada. Padahal dahulunya pernah ada kegiatan. Ada tuntutan dari masyarakat untuk menghidupkan kembali kesenian religius atau kegiatan agama agar kegiatan negatif para pemuda berkurang.

Dihadapkan dua masalah yang pelik dan tidak mudah tersebut, sang petani lele bertekat untuk berjuang. Ia menghubungi para pemuda yang relatif rajin sholat berjamaah dimasjid untuk di ajak memikirkan kembali bagaimana menghidupkan kembali kegiatan tersebut. Selain itu, Ia juga menghubungi para tokoh agama dan kalangan tua untuk memberi dukungan moril. Ia juga mendatangkan guru yang terpercaya.

Dilain pihak, sambil melangkah menangani ke persoalan satu ia juga menghubungkanya dengan mengikutkan atau memasukan permasalahan lain berkaitan dengan pertanian lele. Salah satunya dengan merekrut para anak buah juragan lele untuk di undang acara makan-makan sambil mengadakan kegiatan agama. Ia juga meminta sumbangan para bos lele untuk membeli peralatan kegiatan. Ia sendiri juga ikut menjadi maklar lele yang menghubungkan petani lele dangan pedagangnya.

Khusus untuk gerakan mengirganisasi sejumlah petani lele, perani tadi harus menciptakan rasa kebersamaan dikalangan sesama petani lele dengan menciptakan organisasi. Organisasi itu dibentuk atas persatuan, tolong menolong, tukar menukar informasi dan lebih khususnya sebagai posisi tawar menawar dengan kalangan pedagang lele. Misalnya petani lele menyiapkan timbangan khusus yang di pergunakan untuk menimbang lele sewaktu panen, dengan membeli timbangan baru sekitar dua sampai tiga timbangan, dan itu di jadikan patokan untuk melakukan timbangan. Selanjutnya, petani lele harus mengadakan kontrak kerja secara tertulis dan resmi dalm pembayaran sebagai contoh, pembayaran harus lunas dalam waktu seminggu. Apabila di dalam waktu yang sudah dijanjikan itu tidak lunas, akan di proses secara hukum di peradilan atau dengan ganti rugi berupa barang, semisal motor.

Mengenai persoalan kesehatan lele di pergantian musim, organisasi petani itu harus menimba ilmu pengetahuan dari pihak peternakan setempat sekalian mengadakan pelatihan pertanian lele yang maju, efisien dengan biaya murah, dan bisa memakmurkan. Bisa juga dengan mengadakan studi bandung ke petani lele di desa, kecamatan, kabupaten bahkan provinsi lain untuk mengetahui kunci keberhasilan mereka.

Dalam upaya kita membangun desa kata kuncinya memang kreatifitas pemudanya. Dengan kreatifitas akan muncul hal-hal baru yang bisa mengubah dan memberikan solusi atas persoalan yang ada. Kreatifitas itu bukan persoalan keturunan tapi diciptakan dan memerlukan latihan berkelanjutan. Oleh karena itu, setiap orang bisa menjadi kreatif asalkan dia mau.





Bagaimana membangun kreatifitas tersebut?
Tentu saja ini harus dimulai dari pemuda sebagai motor penggerakan perubahan dimasyarakat. Setelah kreatifitas mereka tercita, mereka harum membangun kreatifitas mayarakat desanya melalui organisasi sehingga tercipta kreatifitas dalam membangun desanya.

Untuk itu, penting sekli menjadikan pemuda sebagai motor pengerak perubahan, pembangunan, pemberdayaan masyarakat desa. Oleh karenanya, pemuda perlu belajar berorganisasi, perlu belajar bersikap kreatif dan mandiri. dengan demikian diharapkan akan tercipta pula kreatifitas membangun desa atau membangun desa penuh kreatifi dan inovatif.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar