Skip to main content

Faktor yang menjadi penyebab pencari kerja sulit mendapatkan pekerjaan sesuai dengan impiannya

Mengapa begitu sulit mendapatkan pekerjaan?
Salah satu masalah terbesar bangsa Indonesia saat ini adalah pengangguran. Menurut data dar Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi angka pengangguran di negara kita pada tahun 2010 cukup tinggi yaitu 10%. Angka pengangguran ini bisa menjadi satu indikasi bahwa jumlah angjatan kerja yang ada belum seluruhnya terserap oleh pasar tenaga kerja. Jumlah angkatan kerja baru tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada. Akibatnya pengangguran masih ada dan cukup besar.


Besarnya angkatan kerja ini menjadi tingkat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan juga semakin tinggi. Hal itu terlihat dari begitu sulitnya seorang pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan yang di inginkan. Sebagai gambara, mungkin kita pernah mengalami atau menjupai orang yang sudah melamar pekerjaan keberbagai tempat, tetapi belum juga diterima berulang-ulang pula kita mengirimkan surat lamaran kerja ke berbagai instansi atau perusahaan dan tidak satupun ditanggapi, Sekedar dipanggil untuk wawancarapun tidak. Yang mendapat tanggapan untuk wawancara pun belum tentu diterima gagal saat berlangsung interview tersebut.

Fenomena lebih menarik terlihat saat berlangsung bursa tenaga kerja (job fair) disuatu kota atau daerah. Bagaimana berjubelnya para pencari kerja untuk memasukan aplikasi (surat lamaran) ke bursa tersebut. Orang-orang berdesak-desakan mengular hanya untuk antri masuk kedalam lokasi bursa kerja. Hal tersebut terjadi karena jumlah lowongan yang ada tidak sebanding dengan tingginya pelamar (pencari kerja). Sebagai gambaran pada Pekanbaru Job Expo tahun 2009 tercatat lebih dari 31.000 peminat berebut sekitar 2000 lowongan kerja yang ada. Hal serupa juga terjadi pada bursa kerja yang di selenggarakan di kota-kota besar pulau jawa seperti Kota Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Peminat dalam bursa kerja ini tidak terbatas hanya angkatan kerja baru (fresh Graduete) yang baru lulus kuliah (sekolah saya), tetapi banyak pula pencari kerja angkatan lama. Angkatan lama ini bisa bersal dari angkatan kerja yang belum mendapatkan pekerjaa, bisa juga orang-orang sudah bekerja bekerja tetapi ingin mendapatkan pekerjaan atau posisi yang baru. Kondisi inilah yang semakin menambah persaingan untuk mendapatkan pekerjaan.

Bagi pencari kerja baru, ditolak atau tidak diterimanya surat lamaran yang telah di kirimkan berulang-ulang dapat menimbulkan rasa frustasi. Kondisi tersebut apabila tidak bisa diatasi sendiri oleh sipencari akan berlanjut dan berakibat fatal, yaitu timbulnya rasa putus asa. Apabila rasa putus asa telah menghinggapi, semangat untuk mencari kerja bisa padam. Akibatnya, tentu saja bertambah satu lagi jumlah pengangguran. yang perlu di waspadai adalah pada sebagian besar pengangguran (terutama yang lama menganggur) akan terkonsep hal-hal negatif dalam dirinya sendiri. Apabila itu sampai terjadi bisa dikatakan bahwa kondisi buruk telah menimpa orang tersebut.

Pada sebagian besar orang keadaan yang sulit untuk yang sulit untuk mendapatkan pekerjaan memicu timbulnya anggapan yang keliru. Sedikit orang yang menyimpulkan bahwa yang mencari kerja berurusan dengan nasib (Takdir). Maksudnya adalah dapat tau tindakannya memperoleh pekerjaan merupakan suatu yang tidak dapat diperkirakan atau diprekdisi sebelumya. Kelompok ini berkeyakinan kalau sudah takdir (nasib) mendapatkan pekerjaan tentu akan memperoleh pekerjaan. Kalau belum menjadi takdirnya, berupaya dengan cara apapun pasti akan gagal. Anggapan seperti ini lah yang harus di singkirkan dalam pikiran para pencari kerja.

Mengapa di negeri kita sendiri untuk mendapatkan pekerjaan begitu sulit? Ada beragam faktor yang menjadi penyebab pencari kerja sulit mendapatkan pekerjaan sesuai dengan impiannya. Secara umum faktor-faktor tersebut terbagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

  1. Faktor Internal
    Adalah faktor-faktor penyebab yang berasal dalam diri pelamar. Faktor-faktor ini biasanya tidak terlihat oleh diri sendiri atau tidak disadari. Yang termasuk dalam kategori faktor internal sebagai berikut.
    • Mentalitas pencari kerja
      Menghadapi kesulitan dalam mencari pekerjaan menyebabkan timbulnya sikap berkelu kesah. Keluh kesah ini kadang-kadang muncul lewat ucapan, misalnya: saya sudah frustasi, saya sudah putus asa, saya sudah tidak mau lagi melamar pekerjaan karena hasilnya selalu nihil, atau saya telah gagal.

      Perlu disadari bahwa sebenarnya hal tersebut merupakan masalah serius yang ada pada diri kita. Artinya, jiga kita ternyata belum mendapatkan pekerjaan padahal sudah lama berusaha, yang ikut andil untuk menciptakan keadaan tersebut bukan hanya karena sulitnya mencari kerja tetapi juga karena sikap kita yang bermalas-malasan, frustasi, dan mudah berputus asa.

      Lantas, bagaiman sebaiknya kita bersikap mengalami hal tersebut? Satu hal yang pasti, kita harus tetap optimis. Seburuk apapun keadaanya kita harus bisa bersikap optimis dan berfikir positif yakinkan pada diri sendiri bahwa sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan. Tidak selamanya jalan yang kita lalui akan menajak, pasti sesudahya ada jalan yang menurun. oleh karena itu, yakinkan dalam diri pribadi kita akan mendapatkan pekerjaan asalkan tetap berusaha dan sabar. Keadaan yang sedang sulit apabila dihadapi dengan jiwa pesimistis hanya akan semakin memperburuk keadaan. Sekarang coba bayangkan, Keadaan yang mudah saja apabila dihadapi dengan sikap yang negatif, hasilnya akan berubah menjadi sulit. Bagaimana jika keadaanya sudah sulit? Tentu saja, semuanya menjadi bertambah sulit. Oleh karena itu, apapun keadaanya bersikaplah selalu optimis. Dengan bersikap optimis paling tidak dalam diri kita masih tersimpan 'amunisi' semangat untuk berjuang mendapatkan pekerjaan.
    • Kondisi tubuh yang cacat atau uzur
      Tidak bisa dipungkiri bahwa keadaan fisik pencari kerja menjadi salah satu pertimbangan para perekrut tenaga kerja untuk menerima atau tidak menerima lamaran seseorang. Anggota tubuh yang cacat bisa menghalangi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka (perekrut tenaga kerja) berkeyakinan bahwa keadaan tubuh yang cacat akan menghalangi produktifitas kerja, meskipun cacat tubuhnya tidak terletak pada anggota tubuh utama untuk bekerja. Sebagai conto seorang yang mahir komputer yang cacat kakinya kemungkinan besar ditolak dari pada yang tidak cact kaki. Dewasa ini sikap diskriminasi semacam itu belum bisa dihilangkan pada para perekrut tenaga kerja.

      Selain faktor cacat tubuh, Usia pelamar kerja juga menjadi pertimbangan. Usia diatas 30 tahun biasanya akan menjadi beban bagi pencari kerja untuk mengajukan lamaran kerja. Hal ini terjadi karena sebagian besar para perekrut tenaga kerja hanya mengutamakan pencarian kerja yang berusia muda, terlebih lagi yang masih segar (fresh graduate). Lagi-lagi alasan produktifitas kerja yang menjadi salah satu pertimbangan, karena usia diatas 30 tahun dianggap akan segera melewati masa-masa tersebut.
    • Keahlian kerja yang dimiliki
      Masalah ketiga yang sering muncul yaitu skill atau keahlian kerja. Keahlian kerja merupakan pengetahuan khusus yang berguan untuk menyelesaikan berbagai persoalan di tempat kerja. Kalau ini hanya mengandalkan kemampuan teori yang diperoleh dari bangku sekolah atau kuliah, itu jauh dari memadai. Dalam lingkungan kerja kita akan bergaul dengan banyak orang. Di sini bisa muncul berbagai persoalan, bukan hanya masalah teknis pekerjaan. Dalam bekerja sangat mungkin terjadi konflik atar indvidu karena dunia kerja melibatkan banyak orang. Di sinilah perlunya penguasaan teori dan praktek, serta kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi bagi para pencari kerja.

      Dilihat dari berbagai kasus dilapanag menunjukan bahwa sebagian besar pencari kerja barukyrang memiliki keahlihan kerja yang diinginkan perekrut tenaga kerja. Rendah nya pengusaan keahlian kerja ini tidak hanya mempersulit para pencari kerja sendiri, tetapi juga berpengaruh terhadap perusahaan perekrut. Paling tidak perusahaan harus membibing tenaga baru tersebut selama berapa waktu yang hasinya masih perlu dievaluasi karena belum tentu langsung mumpuni. Seperti di ketahui bersama bahwa karyawan yang memiliki keahliannya kerja mumpuni jumlahnya masih terbatas.

      Adanya kendala-kendala tersebut diatas merupakan tantangan bagi kita untuk mengatasinya. Kita bisa mencari jalan kreatif agar kemampuan yang dimiliki bertambah sebelum mencari kerja. Mengikuti pelatihan dan magang merupakan cara efektif untuk meningkatkan skill. Satu hal yang perlu ditekankan ialah jangan berputus asa. Tetaplah bersemangat. Mencari pekerjaan itu sama dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Kita akan membutuhkan seatu pemahaman, keterampilan, dan keahlian tersendiri.
  2. Faktor Eksternal
    Merupakan faktor penyebab yang berasal dari lingkungan. Ada begitu banyak faktor eksternal yang menyulitkan seorang mencari kerja cepat mendapatkan pekerjaan, diantaranya sebagai berikut.
    • Kondisi ekonomi makro dan mikro
    • Kesenjangan antara ketersediaan lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja jauh lebih banyak dibandingkan dengan lapangan kerja.
    • Perusaaan pencari tenaga kerja menetapkan persyaratan yang relatif tinggi untuk karyawannya.
    • Ketidakcocokan spesifikasi keahlian antara permintaan dunia kerja dengan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan.
    • Adanya budaya KKN yang belum sepenuhnya bersih dalam birokrasi swasta atau pemerintah dalam hal perekrut tenaga kerja baru.
    • Kompetisi antarpelamar pekerjaan yang tidak sehat.
    • Kurangnya kepedulian pihak pemilik perusahaan dan industri untuk membantu para pncari kerja.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar