Belajar mencari makna dalam puisi

Dalam puisi, kata-kata, frasa dan kalimat mengandung makna tambahan atau makna konotatif. Bahasa figuratif yang digunakan menyebabkan makna-makna dalam baris-baris puisi itu tersembunyi dan harus di tafsirkan. Proses mencari makna dalam puisi merupakan proses pergulatan terus-menerus. Bahasa dalam puisi adalah bahasa figuratif yang bersusun-susun. Sebuah kata memiliki kemungkinan makna ganda. Kata yang nampak tidak bermakna diberi makna oleh penyair. Makna kata mungkin diberi makna baru. Nilaii rasa mungkin diberi nilai rasa baru. Tidak semua kata, frasa, kalimat yang bermakna tambahan. Kalau keadaannya demikaian puisi akan menjadi sangat gelap. Sebaliknya, puisi tidak mungkin tanpa makna tambahan (transparant) sehingga kehilangan kodrat bahasa puisi.

Kata-kata dalam puisi tidak tunduk dalam aturan logis sebuah kalimat, namun tunduk kepada ritma larik puisi. Hal ini di sebabkan karena kesatuan kata-kata tersebut bukanlah kalimat akan tetapi larik-larik puisi. Kata-kata tidak terikat oleh setruktur kalimat dan lebih terkait pada larik-larik puisi. Dalam larik-larik puisi yang lebih pendek, kesatuan kata dan kata-kata yang mandiri membentuk makna puisi. Seperti dalma baris-baris puisi "Isa" karya Chairil Anwar di bawah ini, sepatah kata seperti /rubuh/ dan /patah/ membentuk kesatuan makna secara mandiri.

Isa
                         Kepada nasrani sejati

Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar tanga: aku salah?
kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera

mengatup luka

aku bersuka

Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah
(1943)

Baris-baris puisi yang hanya terdiri atas satu kata /rubuh/ dan /patah/ menunjukan satu kesatuan makna yang bulat. Baris-baris tersebut tidak membentuk satu kesatuan sintaksis dengan baris lainya, namun mampu membentuk satu kesatuan sintaksis tersendiri yang luasnya dapat melebihi satu kalimat. Ada dua baris yang terdiri dari satu kata, yakni: /rubuh/ dan /patah/. Ada tiga bait yang terdiri atas masing-masing satu baris, yakni: /mendampar tanya: aku salah?/, / mengatup luka/, dan /aku besuka/. Kesamaan makna dan larik tersebut mewakili satu bait puisi.

Karena adanya kemungkinan satu kata atau frasa mewakili satu kesatuan makna yang bulat, makna suatu struktur puisi itu menciptakan suatu enyambemen, suatu saat istirahat pada akhir baris atau bait, yang tidak kita dapati pada struktur kalimat. Karena enyambemen ini, maka pembaca puisi akan disertai perhrntian yang cukup pada setiap akhir baris. dan perhentian itu akan lebih lama dari pada setiap akhir baris. Hal ini dilakukan untuk menegaskan kesatuan makna dalam baris/bait itu.

Kata-kata dalam puisi sering menyimpan makanya dari makna yang biasa. Sering sebuah kata memperoleh makna lain karena pengaru konteksnya, namun sering juga penyair memberi makna baru pada kata-kata yang dipergunakannya. Kiasan dan lambang yang merupakan pengungkapan tidak langsung menampilkan makna tidak langsung dari sebuah puisi.

Bahasa figuratif, pengimajian, kata kongkrit, dan diksi khas dari penyair menyebabkan pembaca puisi harus mencari makna yang hendak disampaikan penyair dengan cara yang lebih sulit dari pada makna di dalam bahasa prosa.Pengetahuan tentang latar belakang penyair akan mempermudah mengungkapkan makna yang bersifat khas itu.

Rolland Barthes dalam kupasanya terhadap S/Z menyebutkan adanya 5 kode bahasa yang membantu pembaca memahami makna karya sastra. Kode-kode itu membelakangi makna karya sastra. Meskipun pandangannya diterapkan untuk prosa, namun dapat dipergunakan untuk puisi juaga. Lima kode itu, ialah:
  1. Kode hermewnetik (penafsiran)
    Dalam puisi makna yang hendaknya disampaikan tersembunyi, menimbulkan tanda tanya bagi pembaca. Tanda tanya itu menyebabkan daya tarik pembaca penasaran ingin mengetahui jawabannya. Misalnya dalam puisi " senja di pelabuhan kecil", pembaca akan bertanya apa maksud penyair dengan judul itu? Apa makna senja dan apa makna pelabuhan. Lagi pula pelabuhan itu kecil, apakah maknanya. Dengan latar belakang yang cukup dengan pengetahuan sasra pembaca akan mampu menafsirkan makna puisi itu.
  2. Kode proairetik (perbuatan)
    Dalam karya sastra pembuatan gerak atau alur penyair merupakan rentetan yang membentuk garis linear. Pembaca dapat menelusuri gerak batin dan pikiran penyair melalui perkembangan pemikiran yang linear itu. Baris demi baris membentuk bait. Bait pertama dan bait kedua serta seterusnya merupakan gerak berkesinambungan. Gagasan yang tersusun merupakan gagasan runtut. Jika dipelajari dengan seksama, maka kita akan menemukan kesamaan gerak batin penyair yang sama dalam berbagai puisinya. Ciri khas itu akan nampak karena setiap penyair memiliki metode yang hampir sama dalam proses penciptaan puisi. Sulit kiranya seorang penyair mengubah teknik pengucapan puisi yang sudah dimilikinya.
  3. Kode semantik (sememe)
    Makna yang ditampilkan dalam puisi adalah makna konotatif. Bahasa kias yang kita jumpai. Sebab itu, menafsirkan puisi berbeda dengan menafsirkan prosa. Menghadapi bentuk puisi, pembaca sudah harus bersiap-siap untuk memahami bahasanya yang khas.
  4. Kode simbolik
    Kode semantik berhubungan dengan kode simbiolik; hanya kode semantik lebih luas. Kode simbiolik hanya lebih mengarah pada kode bahasa sastra yang mengungkapkan/melambangkan suatu hal dengan hal lain.
  5. Kode budaya
    Pemahaman akan bahasa semakin lengkap jika kita memiliki kode budaya dari bahasa lain. Banyak kata dan ungkapan yang sulit dipahami secara tepat dan langsung jika kita tidak memahami latar belakang kebudayaan dari bahasa itu. Memahami bahasa diperlukan "cultural understanding" dari pembaca. Misalnya "Dik Narti" dalam puisi Rendra, Sulit diterjemahkan dalam bahasa ingris panggilan serupa itu tidak ada. Demikian pula dengan kata "Jeng" dalam bahasa jawa. Kata Durno, Sengkuni, Kresno, Semar, mBilung dan sebagainya mewakili suatu konsep makna yang hanya bisa ditelusuri dengan atau melalui kode budaya jawa.

Disqus Comments