Skip to main content

DEKONSTRUKSI

DEKONSTRUKSI

      Sejak tahun 1966 teori dekontruksi telah dipakai secara luas untuk ilmu humaniora di Amerika Serikat. Teori ini muncul sebagai salah satu pilihan yang menolak teori yang telah ada sebelumnya. Teori dekontruksi menolak teori Saussure dan Jacobson dalam teori linguistik dan semiotik. Oleh karena itu, munculnya teori ini dapat dikatakan sebagai pembangkangan terhadap teori strukturalisme dan semiotik atau pembalikan teori yang sudah ada. Dekontruksi disebut juga sebagai pasca strukturalisme karena teori ini muncul atas dasar stukturalisme sebelumnya. Aliran ini mula-mula dikembangkan di Prancis oleh kelompok penulis Tel Quel dengan tokoh perintis antara lain Jacques Derrida dan Julia Kristeva.

      Inti teori dekontruksi ini adalah cara membaca yang dimulai dengan penelusuran secara hierarki kemudian diteruskan dengan membalikannya, dan akhirnya menolak pernyataan hierarki. Misalnya, pemaknaan terhadap novel Belenggu karya Ariminj Pane dan Sitti Nurbaya karya Marah Rusli. Pada novel Belengguterhadap pemaknaan yang menggambarkan kemenangan kaum pria terhadap kaum wanita. Kegalan rumah tangga Tono dan Tini disebabkan Tini egois dan mau menang sendiri, lebih suka aktif diluar rumah, dan enggan melayani suami. Pemaknaan tersebut menjadi terbalik jika diterapkan teori dekonstruksi tokoh yang dimenangkan menjadi wanita (Tini). Tini menang dalam memperjuangkan kaumnya dengan mengorbankan kepentingan sendiri. Bentuk penolakan Tini dan aktifnya Tini diluar rumah dapat dijadikan lambang kemenangannya terhadap pria (Tono). Disinilah ditonjolkan kemauan bertindak sendiri dan tidak terikat oleh dominasi suami dan perkawinana.

      Sementara itu, pada novel Sitti Nurbaya tokoh Samsulbahri dianggap sebagai pemuda hero (tokoh putih). Sebaliknya, tokoh Datuk Maringgih dianggap sebagai tokoh antagonis yang jahat dan menyebabkan cinta Sitti Nurbaya dan Samsulbahri kandas. Jika diterapkan dekontruksi, Samsulbahri sebagai pemuda yang cengeng (bunuh diri), memiliki nasionalisme yang sempit karena lebih memihak penjajah dan pengganggu rumah tangga orang. Sebaliknya, Datuk Maringgih dianggap sebagai pahlawan yang memimpin rakyat Sumatra Barat untuk menentang penjajahan belanda. Jika dilihat dari segi sejarah, perbuataan Samsulbahri merupakan perbuaatan penghianatan bangsa, sedangkan Datuk Maringgih merupakan tokoh penggerak pemberontakan terhadap penjajah-penjajah Belanda.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar